JawaPos Radar

Viral Ombak di Kolam Renang, BMKG: Paling Masuk Akal karena Angin

02/10/2018, 20:13 WIB | Editor: Dida Tenola
Viral Ombak di Kolam Renang, BMKG: Paling Masuk Akal karena Angin
Komandan Lanudal Juanda Kolonel Laut (P) Bayu Alisyahbana (kaca mata hitam) menunjukkan kondisi kolam renang yang tidak dilengkapi alat pembuat ombak. (Aryo Mahendro/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Video yang menayangkan hempasan ombak di kolam renang Tirta Krida Puslatdiksarmil TNI AL, Sidoarjo, viral di media sosial sejak Senin (1/10). Dalam video itu disebutkan bila ombak yang muncul merupakan pertanda ada gempa dan tsunami.

JawaPos.com mendatangi lokasi kolam renang tersebut, Selasa (2/10). Pihak Puslatdiksarmil TNI AL membenarkan video tersebut. 

Komandan Lanudal Juanda Kolonel Laut (P) Bayu Alisyahbana membenarkan, fenomena itu direkam di kolam renang Tirta Krida. Dia mengatakan, hempasan ombak terjadi hari Jumat (29/9), menjelang jam tutup operasional kolam renang, pukul 17.00 WIB. "Memang kolam renang ini berada di wilayah tanggung jawab kami. Memang di Puslatdiksarmil, untuk latihan para siswa  baru. Nah kejadian kemarin, memang kolam renang menjelang tutup," kata Bayu.

JawaPos,com sendiri sempat mengamati kondis air di dalam kolam renang. Tidak ada semacam alat pembuat ombak . Samar-samar hanya terlihat lima alat saluran air di sisi Utara dan Selatan kolam renang.

JawaPos.com juga sempat meminta video asli, saat fenomena itu direkam pertama kalinya, sebelum viral. Ini penting untuk mengkroscek kebenaran video melalui detail tanggal yang tecantum pada file video.

Video itu diketahui direkam melalu handphone milik anggota tetap (angtap) Puslatdiksarmil Jaenudin Iksan. Sayangnya saat ditanya perihal video asli itu,pihak Puslatdiksarmil mengatakan sudah terhapus. 

Bayu sendiri tidak dapat menjelaskan secara ilmiah terkait fenomena hempasan ombak itu. Dia menganggap ombak itu murni karena fenomena alam. "Bukan rekayasa dari alat apapun. Kolam renang ini tidak punya alat pembuat gelombang atau apapun. Yang ada hanya alat manual yang berfungsi untuk mengatur sirkulasi air," tambah Bayu. 

Di tempat yang sama, Jaenudin mengaku bukan pertama kali ini saja dia menjadi saksi munculnya fenomena ombak di kolam renang iu. Dia sudah menjaga kolam renang itu selama 20 tahun. Saat gempa Nias dan Aceh terjadi, Bayu mengklaim fenomena ombak itu juga muncul di kolam renang.

Sayangnya saat gempa Nias dan Aceh, dia belum punya handphone berkamera. Sehingga dia tidak punya arsip untuk membuktikan ucapannya. "Jadi, saya kasih keterangan berdasarkan pengalaman. Air kolam selalu berombak jika ada gempa yang melanda di suatu daerah di Indonesia,” sebutnya.

"Nah, selama saya di sini, setiap kali ada gempa itu pasti air kolamnya bergelombang. Apalagi kalau ada musibah tsunami, gelombangnya mencapai 1 meter," lanjutnya.

Terpisah, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda Teguh Tri Susanto mengatakan, perlu ada kajian ulang terkait video hempasan ombak di kolam remang tersebut. Sebab, ada beberapa teori ilmiah yang paling masuk akal. 

Pertama, perbedaan suhu di lokasi kolam renang yang menimbulkan tekanan udara. Tekananan udara itu kemudian menyebabkan adanya hempasan angin yang cukup kuat. 

Kedua, hempasan ombak dapat terjadi karena patahan lempengan di dasar bumi yang bahkan dapat menimbulkan tsunami. Teori tersebut menjadi valid pada konteks terjadinya gelombang atau ombak di laut. "Tapi kalau konteksnya hanya di kolam renang, teori yang paling masuk akal ya karena hembusan angin yang cukup kuat saja. Karena lokasi kolam renangnya di tengah sawah, ada tribun di sisi Barat, dan sisi Timur dan hanya ada tembok saja," papar Teguh. 

Oleh karenanya, Teguh mengiimbau agar masyarakat tidak terlalu khawatir terkait video tersebut. Dia menegaskan , tidak ada aktivitas gempa berskala tinggi di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya yang tercatat di Stasiun Geofisika Tretes. 

Meski, wilayah Jawa Timur sendiri punya potensi tertimpa musibah sejenis dengan daerah lain sepanjang pulau Jawa. "Sebenarnya, getaran dibawah 3 SR (di pulau Jawa) itu banyak. Jadi nggak memungkiri kalau daerah kita ini memang rawan bencana," jelasnya

 

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up