JawaPos Radar

10 Awak Redaksi Radar Sulteng Masih Belum Ditemukan Sejak Gempa Palu

Oleh: Murtalib Rasul Pemred Radar Sulteng

02/10/2018, 19:01 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
10 Awak Redaksi Radar Sulteng Masih Belum Ditemukan Sejak Gempa Palu
Crew Radar Sulteng berkumpul dihalaman kantor membahas kondisi karyawan yang belum ada kabar, kemarin (Radar Sulteng)
Share this image

JawaPos.com – Hari ke-4 sejak gempa melanda Sulawesi Tengah, upaya untuk mencari keluarga yang hilang terus dilakukan berbagai pihak. Termasuk, kru Radar Sulteng (Jawa Pos Grup) yang belum ditemukan lengkap. Ini catatan Pemimpin Redaksi Radfar Sulteng:

Pagi tadi sekitar pukul, 07.00 wita, pencarian crew Radar Sulteng kembali kami lakukan dengan mendatangi satu persatu rumahnya. Yang pertama kami mendatangi rumah Pimpinan Radar Grup H Kamil Badru AR, di BTN Palupi, Kecamatan Palu Selatan.

Meski tidak ketemu langsung namun kami mendapat titik terang dari pihak keluarga bahwa H Kamil Badrun sehat walafiat. ''Bapak barusan keluar naik motor. Mungkin lihat situasi pasca gempa. Alhamdulilah kita semua selamat,'' kata istrinya Pien Kamil.

Sejak terjadi gempa 7,7 SR pada Jumat (28/9) lalu katanya, kami sekeluarga hanya mengungsi di depan rumah. Tidak berani tidur dalam rumah. Semua keluarga tidur di halaman maupun pinggir jalan menggunakan tenda. Yang susah saat ini kata Pien, mencari air bersih dan sulit jaringan seluler.

Dari 35 karyawan Radar Sulteng mulai devisi redaksi, pemasaran, iklan dan percetakan baru 25 karyawan diketahui keberadaannya. Sisanya masih dilakukan pencarian dan kami berharap semua baik baik saja. Sekira pukul 13.00 wita, kami rapat bersama di halaman kantor.

Dari hasil rapat siang kemarin, ada 10 orang yang belum diketahui keberadaannya. Untuk redaksi ada empat orang yakni, Sudirman, Ujang Suganda, dan Rijal. Sedangkan pemasaran satu orang bernama Hayun. Anggota lain, juga masih dicari.

''Semua wartawan yang hadir pada rapat siang tadi mengaku belum mengetahui. Namun keberadaan rumahnya di spot berbahaya. Sedangkan Hayun saat kejadian diduga sedang di TKP,'' kata Nur Soimah dibenarkan Basri Sido.

Sulitnya komunikasi di Palu pasca gempa membuat warga dibuat panik oleh isu isu yang tidak jelas. Setiap malam para pengungsi dihembuskan akan adanya gempa yang lebih besar. Bahkan isu tsunami selalu dihembuskan. Ada dugaan modus oknum tertentu untuk mencari kesempatan dalam musibah.

Terkait kondisi fisik kantor hasil pemeriksaan bagian umum Radar Sulteng, Moh Fahmi Laguliga diketahui tidak memungkinkan. Pasalnya, plafon dan dinding ruangan mengalami retak-retak. Sedangkan fasilitas komputer masih dilakukan pemeriksaan akibat terjatuh di lantai.

Untuk percetakan dilaporkan Fahmi masih bisa difungsikan.  ''Untuk sementara Redaksi akan menggunakan gedung lantai bawah. Permasalahannya listrik dan jaringan internet yang tidak ada. Kalo harus menggunakan genset saat ini sulit nyari BBM,'' demikian jelas Fahmi.

(dim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up