JawaPos Radar

Aksi Sayat Tangan Siswa SMPN 18 Pekanbaru Terungkap Setelah Razia HP

02/10/2018, 17:16 WIB | Editor: Dida Tenola
Aksi Sayat Tangan Siswa SMPN 18 Pekanbaru Terungkap Setelah Razia HP
Kepala SMPN 18 Pekanbaru Lily Deswita dengan latar belakang foto lengan siswa yang disayat. (Virda Elisya/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com– Terungkapnya aksi sayat tangan oleh 55 murid SMPN 18 Pekanbaru berawal dari razia handphone. Fauziah merupakan guru yang pertama kali menemukan tangan anak didiknya terluka.

Jumat (7/9), Fauziah sedang mengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di kelas VII. Dia langsung menginterogasi para siswa.

"Saya tanya ini kenapa? Mereka jawab luka. Saya periksa yang lain ada juga goresan katanya bekas jatuh, saya periksa lainnya nyatanya banyak. Kok bisa sama, kok ini bilang karena luka, cakar kucing dan karena jatuh, akhirnya saya tanya yang lain ternyata banyak (bekas sayatan)," ceritanya kepada JawaPos.com, Selasa (2/10).

Melihat fenomena itu, Fauziah langsung bergegas ke ruangan kepala sekolah Lily Deswita MPd. Fauziah menceritakan temuannya tersebut. Menanggapi itu, kepala sekolah memutuskan agar setiap guru  melakukan razia besar-besaran di masing-masing kelas yang diajarnya.

"Saat itu juga kami putuskan untuk merazia tangan semua murid dan handphone mereka. Awalnya datang tujuh sampai delapan orang, tapi kok lama-lama banyak. Setelah dihitung ternyata ada 55 perempuan, satu diantaranya laki-laki karena kedapatan membawa smartphone yang isinya setelah kita periksa tidak pantas," jelas Lily.

Keesokan harinya, Sabtu (8/9), kepala sekolah memutuskan untuk memanggil para orang tua murid untuk membicarakan temuan ini. "Hampir 95 persen wali murid yang hadir. Mereka semua gak tahu, cuma ada satu orang tua yang tahu. Dia bilang kalau anaknya menyayat tangan setelah menonton sebuah video," tutur Lily.

Meski begitu, Lily tak langsung percaya. Dia khawatir kalau anak remaja yang masih labil itu mengonsumsi narkotika. Ia pun menghubungi anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melakukan pemeriksaan terhadap murid-muridnya, Senin (9/9).

"Nggak langsung pemeriksaan pada Senin itu. Soalnya dokternya sedang sakit. Jadi diperiksa hari Rabu. Pemeriksaan berupa tes urine kepada satu murid laki-laki, kami sudah izin orang tuanya juga. Hasilnya dia positif Benzo," ungkapnya.

Saat ditanyakan kepada murid laki-laki tersebut, dia mengaku setiap hari meminum minuman Torpedo. Dalam sehari, bahkan dia bisa mengonsumsi sebanyak empat hingga lima gelas. "Awalnya kami kira itu. Makanya saya perintahkan orang kantin jangan menjual minuman itu lagi," kata Lily.

Namun, setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata anak-anak yang menyayat tangan itu menonton sebuah video yang beredar di media sosial WhatsApp. Para murid menjelaskan, video itu memang sedang viral di kalangan pelajar SMP di Pekanbaru. Bahkan, bukan hanya SMPN 18 saja, murid sekolah lain juga menonton dan memeragakan hal serupa.

"Saya tanya sama mereka, ya mereka ngaku nonton di WA. Terus mereka peragakan karena ada yang masalah pribadi dan ikut-ikutan teman. Ya intinya sebagai tempat pelampiasan mereka. Jadi nggak ada kaitan dengan minuman itu," sambung Lily.

Sementara itu, setelah hasil tes urine keluar, pihak BNNK Pekanbaru langsung mengirim sampel minuman Torpedo ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pekanbaru. Hasil uji laboratorium  Torpedo itu akhirnya keluar, Senin kemarin (1/10).

Kepala BPOM Pekanbaru Muhammad Kashuri enggan membeberkan hasilnya. Namun, ia memastikan bahwa hasil itu telah dikirim ke BNNK. "Sudah kami kirim ke BNNK, silakan tanya ke sana sebagai pengirim sampel," ujar Kashuri.

Secara terpisah, Kepala BNNK Pekanbaru AKBP Sukito mengaku telah menerima hasil uji laboratorium tersebut.''Memang hasil dari BPOM negatif,'' ungkapnya. 

Soal rilis pertama pihaknya menyatakan, minuman itu (Torpedo) mengandung Benzo. Hal itu diakuinya, kadar nya mengandung benzo apabila dikomsumsi secara berlebihan. ''Iya kalau minum empat atau lima gelas, mungkin bisa terdeteksi. Hal itu, sesuai dengan imbauan di kemasan, bahwa Torpedo tidak diperuntukkan dikomsumsi ibu hamil dan anak-anak,'' pungkasnya.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up