JawaPos Radar

Kata LIPI Ini Kelalaian Penyebab Jatuhnya Korban Jiwa di Gempa Sulteng

02/10/2018, 15:33 WIB | Editor: Kuswandi
Eko Yulianto
Gempa Sulteng: Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto saat memberikan keterangan pers kepada awak media perihal penyebab gempa Sulteng, di Jakarta, Selasa (2/10) (Sabik/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Gempa 7,7 skala richter diiringi tsunami yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) telah memakan hampir seribu korban jiwa. Saat bencana terjadi banyak dari korban yang terlambat menyelamatkan diri.

Namun jika ditelisik ke belakang, sesar Palu Koro yang diduga sebagai penyebab utama terjadinya gempa Sulteng memiliki siklus 100 tahunan. Bahkan tim ekpedisi Palu Koro yang terdiri atas beberapa ahli geologi telah mewanti-wanti masa-masa sekarang merupakan waktu rawan terjadinya gempa. Lantas kenapa banyak korban jiwa dalam tragedi ini?.

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto mengatakan bahwa kelalaian masyarakat dianggap sebagai salah satu faktor utama penyebab banyaknya korban jiwa. Tingkat kesadaran dalam menghadapi bencana dianggap masih sangat rendah.

"Kelalaian ini juga sebenarnya ada di masyarakat bukan hanya pemerintah," ujar Eko di Media Center LIPI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (2/10).

"Misalnya ada orang datang ke anda, ini ada siklus gempa di Paku Koro yang berulang 50 tahun atau 100 tahun sekali, anda mau nggak misalnya yuk bareng-bareng kita selamatkan diri? Mungkin pertanyaan pertama dari masyarakat, ah sok tahu kamu," sambungnya.

Adanya pola pikir seperti itu membuat seolah-olah keselamatan jiwa setiap individu berada di tangan pemerintah. Padahal setiap orang juga memiliki tanggung jawab terhadap keselamatannya sendiri.

"Seolah-olah kita sebagai masyarakat tidak punya tanggung jawab menyelamatkan diri sendiri. Itu adalah tanggung jawab pemerintah. Kalau saya mati salahnya pemerintah, lah wong hidup-hidup sendiri kok," lanjut Eko.

Lebih jauh Eko menerangkan bahwa pemerintah memang memiliki perannya sendiri dalam mengantisipasi gempa. Namun hal itu tidak bisa sepenuhnya dijadikan pegangan hidup bagi masyarakat ketika bencana datang. Kesadaran masyarakat itu sendiri turut dibutuhkan saat keadaan darurat terjadi.

"Pemerintah punya tugas pada konteks tertentu, dan kita punya tugas juga, ketika kita sudah melaksanakan tugas kita kemudian pemerintah atau pihak siapapun yang ada di situ tidak melaksanakan tugasnya kita bisa menuntut, tapi kalau tidak kok ego kita tinggi banget," pungkasnya.

(sat/JPC)

Alur Cerita Berita

Kelangkaan BBM Mulai Teratasi 02/10/2018, 15:33 WIB
Akses ke Palu Makin Mudah 02/10/2018, 15:33 WIB
Pasar Manonda Palu Kembali Bergeliat 02/10/2018, 15:33 WIB
Jokowi Kerahkan Psikolog ke Sulteng 02/10/2018, 15:33 WIB
Gempa Sulteng, 2.736 Sekolah Rusak 02/10/2018, 15:33 WIB
TNI Kirim Tiga Pesawat ke Palu 02/10/2018, 15:33 WIB
TNI Kirim 6 Ton Alkes ke Sulteng 02/10/2018, 15:33 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up