JawaPos Radar

Memahami Sejarah Batik dengan Belajar Cara Pembuatannya

02/10/2018, 14:11 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
hari batik nasional, sejarah batik, cara buat batik,
Masyarakat asyik belajar membatik di Museum Tekstil. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com – Rasa cinta terhadap kain nusantara bisa ditunjukan melalui berbagai cara. Tak hanya memakai busana batik, tapi juga bisa belajar membuatnya agar bisa memahami nilai di balik goresan cantik yang menawan.

Seperti yang diungkapkan Pengajar Teknik Batik di Museum Tekstil, Sugeng Riadi. Ia berharap pelestarian terhadap batik untuk milenial terus digaungkan. Sebab, kata dia, batik adalah warisan budaya yang sangat relevan diperkenalkan kepada generasi milenial.

"Hari Batik Nasional harus mendorong generasi milenial untuk melestarikan batik Indonesia dengan mempelajari proses pembuatannya. Kita dapat berkarya dan dapat berkarir di industri kreatif," kata Sugeng kepada JawaPos.com, Selasa (2/10).

Sugeng menerangkan, teknik batik juga dipengaruhi oleh sejarah di tiap daerah khususnya nilai filosofi dalam motifnya. Bahkan, dulu obat-obat dipakai dalam pembatikan, yang merupakan buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain pohon tom, mengkudu, kayu tinggi.

“Saat ini, lilin atau malamnya hanya bisa dibeli di daerah Pekalongan atau Solo dan Jogjakarta. Sejarah batik begitu panjang, dan hal itu akan mempengaruhi setiap tekniknya. Setiap daerah saat ini membuat batik. Proses membatiknya sama. Pewarnaannya sama. Tapi tiap daerah punya ciri sendiri dan yang membedakan adalah keindahan motifnya,” tutup Sugeng Riadi.

Batik memang memiliki sejarah panjang hingga akhirnya diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009. Karena itulah, sejak saat itu, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober.

Semula perjuangan diawali karena perlawanan Indonesia karena tak mau batik diklaim oleh negera tetangga Malaysia. Karena itu sejak tahun 2008, pemerintah Indonesia mendaftarkan batik ke dalam deretan representatif budaya tak benda warisan manusia Unesco atau Representative List of Intangible Cultural Heritage-Unesco. Kemudian diterima resmi oleh Unesco pada 9 Januari 2009 untuk diproses. 

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up