JawaPos Radar

Jokowi Minta Selektif Terima Bantuan Negara lain untuk Gempa Sulteng

02/10/2018, 13:05 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
gempa, tsunami, sulteng, gempa sulteng, gempa sulawesi tengah, jokowi,
Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk memulai koordinasi bantuan internasional dari negara-negara seperti Tiongkok, Australia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa (Setpress)
Share this image

JawaPos.com – Secara terbuka, Indonesia menerima bantuan dari negara lain dalam proses evakuasi tsunami Palu yang terjadi pada Jumat (28/9). Dilansir dari South China Morning Post pada Senin, (1/10), Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan Kementerian Luar Negeri Indonesia untuk memulai koordinasi bantuan internasional dari negara-negara seperti Tiongkok, Australia, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

“Kami telah belajar dari tsunami Aceh pada 2004 dengan bantuan internasional, kami harus selektif dan hanya menerima bantuan yang benar-benar kami butuhkan,” kata Juru Bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho pada konferensi pers.

"Kami perlu memilih negara berdasarkan kapasitas mereka untuk membantu kami," ujar Sutopo. Selama tsunami Aceh, Indonesia menerima sumbangan senilai USD 6 miliar yang belum dari total 117 negara, tetapi para analis mengatakan, uang itu akhirnya meningkatkan ketidaksetaraan sosial ekonomi di daerah tersebut karena kurangnya pengalaman dan peraturan yang berkaitan dengan bantuan internasional, misalnya, hanya beberapa masyarakat menerima perumahan berkualitas tinggi.

gempa, tsunami, sulteng, gempa sulteng, gempa sulawesi tengah, jokowi,
BNPB memperkirakan bahwa Sulawesi Tengah mengalami kerusakan yang mencapai lebih dari 10 triliun rupiah (USD 670,56 juta), lebih banyak daripada yang terjadi akibat gempa Lombok baru-baru ini (AFP)

Untuk saat ini, negara ini memprioritaskan tenda, peralatan pengolahan air, genset, rumah sakit lapangan, staf medis, dan kendaraan udara yang dapat mendarat di lintasan 2.000 meter.

BNPB memperkirakan bahwa Sulawesi Tengah mengalami kerusakan yang mencapai lebih dari 10 triliun rupiah (USD 670,56 juta), lebih banyak daripada yang terjadi akibat gempa Lombok baru-baru ini.

Tim penyelamat masih menghadapi rintangan yang mencapai Donggala, episentrum gempa berkekuatan 7,4 skala Richter yang melanda pada senja hari Jumat, dengan alasan kerusakan jalan, tanah longsor, dan kurangnya peralatan berat untuk mempercepat evakuasi dan operasi pencarian dan penyelamatan.

"Korban berlindung di lahan terbuka, mereka yang tinggal di perbukitan sudah bergabung dengan korban lainnya dalam pencarian makanan dan kebutuhan pokok," kata Sutopo.

“Para korban gempa dan tsunami benar-benar membutuhkan perlindungan, selimut, persediaan makanan siap saji dan perawatan kesehatan,” ujarnya.

Tim pencari dan penyelamat telah mencapai Donggala tetapi tidak dapat dihubungi karena listrik dan komunikasi masih terputus di kawasan itu, kata Sutopo. BNPB mengatakan ada 254 gempa susulan di Sulawesi Tengah setelah gempa dan tsunami Jumat. Hampir 2.500 rumah di kompleks Balaroa dan Patobo terkubur di bawah lumpur akibat gempa dan gelombang tsunami setinggi enam meter, yang menyulitkan proses penyelamatan, kata Sutopo.

Ratusan orang dikhawatirkan masih terkubur di tanah longsor yang melanda desa-desa di sekitarnya. Naasnya,  pemerintah mengatakan,  sebanyak 1.200 narapidana telah melarikan diri dari tiga penjara yang berbeda di wilayah yang hancur. Pejabat Departemen Kehakiman Sri Puguh Utami mengatakan para narapidana telah melarikan diri dari penjara di Palu dan Donggala. “Saya yakin mereka melarikan diri karena mereka khawatir mereka akan terpengaruh oleh gempa bumi. Ini pasti masalah hidup dan mati bagi para tahanan, ”katanya.

Pemakaman massal juga dilakukan Senin di Palu, di parit berukuran 10 meter kali 100 meter yang bisa diperbesar jika diperlukan, kata kepala BNPB Willem Rampangilei. "Pemakaman harus dilakukan sesegera mungkin untuk alasan kesehatan dan agama," katanya. Indonesia adalah mayoritas Muslim, dan panggilan agama untuk penguburan segera setelah kematian, biasanya dalam satu hari.

Juru bicara militer setempat Mohammad Thorir mengatakan daerah dekat pemakaman umum bisa menampung 1.000 mayat. Semua korban, yang berasal dari rumah sakit setempat, telah difoto untuk membantu keluarga menemukan tempat keluarga mereka dikuburkan.

Dari 114 orang asing yang berada di Palu dan Donggala ketika bencana melanda, delapan masih hilang. Di antaranya adalah satu korban dari Belgia, satu Korea Selatan, dan enam warga Prancis.

Menurut Sutopo, ada 48.025 pengungsi  di Palu yang berlindung di seluruh kota. Angka-angka itu diperkirakan akan meningkat karena penyelamat perlahan-lahan mencapai daerah-daerah yang paling terkena dampak seperti Parigi Moutong dan Sigi, di mana listrik belum dipulihkan, menghambat evakuasi di malam hari.

Posisi geografis Indonesia pada cincin api, busur gunung berapi, dan garis patahan di Lembah Pasifik, membuatnya rentan terhadap bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. 

 

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up