JawaPos Radar

Sempat Terjebak di Bukit, Empat Atlet Akhirnya Selamat dari Tsunami

02/10/2018, 09:38 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
gempa sulawesi tengah, gempa palu
Warga melintas di perumnas balaroa yang terdampak gempa, Palu, Sulawesi tengah, Senin (1/10/2018). Gempa berkeuatan 7,4 skala richter tersebut menghancurkan rumah warga dan warga terpaksa mengungsi ketempat yang lebih aman. (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Empat atlet panjat tebing asal Balikpapan menjadi korban gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu, Sulteng, Jumat (28/9) lalu. Mereka sempat terjebak di perbukitan lantaran menghindari terjangan tsunami. Namun, semuanya telah dipastikan selamat dari bencana.

Empat atlet itu atas nama Jamal Al Hadad, Arga Nur Adli, Nova Bina Wardhanui, dan Annisa Aulia. Sejatinya, mereka akan mengikuti turnamen sport climbing pada Festival Pesona Palu Nomoni 2018.

Perlombaan panjat tebing awalnya bakal dilangsungkan Sabtu (29/9) sampai Senin (1/10). Nahas, gempa dan tsunami yang menerjang Palu membuat turnamen batal dilaksanakan.

gempa sulawesi tengah, gempa palu
Warga mengisi air bersih menggunakan galon dikawasan patebo, Palu, Sulawesi tengah, minggu (30/9/2018). (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

Sekretaris Pengkot Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Balikpapan Mardjuki mengaku, empat atletnya berangkat ke ibu kota Sulteng itu pada Kamis (27/9) malam. Laki-laki yang akrab disapa Juki itu menambahkan, proses evakuasi empat atletnya cukup sulit. Sebab, mereka diminta menunjukkan bukti bahwa mereka merupakan delegasi FPTI Balikpapan.

“Saya sempat kontak semua yang bisa dihubungi mulai Basarnas dan beberapa instansi,” beber Juki sebagaimana diberitakan Kaltim Post (Jawa Pos Group).

Akhirnya, Minggu (30/9) sore, Nova dan Annisa berhasil dievakuasi menuju Makassar menggunakan pesawat Hercules. Sedangkan Jamal dan Arga mesti bertahan di Palu. “Informasi terakhir memang yang diprioritaskan adalah perempuan, lansia, dan orang sakit,” ujarnya.

Annisa yang coba dihubungi lewat pesan singkat tak ingin banyak berkomentar. “Saya masih trauma, tapi iya ini sudah di Makassar,” katanya singkat.

Sementara Jamal Al Hadad yang berhasil dihubungi media ini mengaku saat ini masih berada di Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu bersama Arga. “Kemungkinan besok pagi (hari ini) kami ke Makassar, tapi tetap perempuan, lansia, dan orang sakit diprioritaskan,” kata Jamal lewat sambungan telepon tadi malam.

Jamal mengaku saat kejadian, dirinya tengah membeli jagung di sekitar Balai Kota Palu bersama Arga, Nova, dan Annisa. Saat itu sekitar pukul 17.55 WITA. Lima menit berselang, dia lantas merasakan guncangan hebat.

“Saya langsung menarik Nova dan Arga juga Annisa mencari daerah lapang. Saat itu, saya lihat banyak kecelakaan, gerobak pedagang rebah, dan beberapa bangunan mulai roboh,” kata dia.

Pemuda 22 tahun itu lantas mencari daerah yang lebih tinggi lantaran mendapat kabar ada tsunami. Namun, karena jaraknya yang relatif jauh, sekitar 5 kilometer dari bibir pantai, tsunami tidak sampai ke lokasi Jamal.

“Sekitar jam delapan malam saya dan teman-teman memutuskan tetap naik ke daerah yang lebih tinggi lagi agar benar-benar aman dari tsunami. Kami malah terjebak di bukit tak bisa turun karena banyak warga mengungsi. Tapi pagi harinya, kami memberanikan turun untuk mencari sarapan. Di situ kami melihat bangunan banyak yang roboh,” ungkap Jamal.

Kabar ke Balikpapan baru bisa disampaikan Arga pada Sabtu sore (29/9) lantaran sinyal di Palu belum pulih. “Tadi siang (30/9) kami baru ke Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie. Teman-teman FPTI Palu yang mengantarkan kami,” katanya.

Meski selamat, Jamal mengaku saat ini kemungkinan masih banyak warga Balikpapan yang terjebak di Palu dan perlu pertolongan. “Kemarin ada beberapa atlet airsoft gun dan pencinta alam yang juga berada di Palu. Semoga Pemkot Balikpapan segera merespons,” katanya.

(fab/jpg/ce1/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up