JawaPos Radar

Setelah 23 Tahun Menanti, Akhirnya Salok Lai Diterangi

02/10/2018, 05:15 WIB | Editor: Estu Suryowati
Setelah 23 Tahun Menanti, Akhirnya Salok Lai Diterangi
ILUSTRASI PLN. Setelah 23 Kampung Salok Lai, Balikpapan Timur akhirnya mendapat aliran listrik dari PLN. (Basri/Luwuk Post/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Wajah Salok Lai, satu wilayah administratif di Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur kini berubah. Warga akhirnya bisa tersenyum dan lega, setelah menanti puluhan tahun akhirnya bisa menikmati aliran listrik dari PLN.

Listrik telah menerangi perkampungan tersebut sekitar sepuluh hari terakhir. Tepatnya listrik mulai menyala pada Kamis (20/9) pukul 14.00 Wita.

Ketua RT 09 Kampung Salok Lai Elsan Prabowo menuturkan, PLN memasang 164 tiang listrik berkekuatan 20 kV. Di mana, tiang listrik ini tersebar melintasi RT 08, 09, 07, dan 20.

Kini listrik dapat menerangi sekitar 40 rumah. Proses pemasangan tiang hingga rampung kurang lebih memakan waktu sekitar delapan bulan.

"Petugas PLN sudah memulai pengerjaan sejak akhir Januari. Terkendalanya karena stok kabel sempat kosong. Kemudian pohon karet yang cepat sekali tumbuh setelah penebangan," katanya dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Selasa (2/10).

Selain petugas PLN yang bekerja, warga juga ikut bergotong royong menebang pohon karet.

Masalahnya, pohon karet yang terkena jalur kabel ini harus dipangkas melalui kerja bakti. Warga perlu menebang pohon karet sepanjang 6 kilometer yang terbagi sebanyak dua baris.

Kerja bakti ini harus dilakukan berkali-kali hingga tak ada lagi pohon yang mengganggu jalur kabel. Elsan bercerita, cuaca juga sempat menjadi kendala utama dalam tahap awal pemasangan tiang.

Selama Februari hingga Maret, Balikpapan lebih sering dilanda hujan dan proses pengerjaan baru maksimal pada April. "Kalau cuacanya hujan, otomatis jalanan jadi bubur. Warga dan petugas PLN sudah tidak bisa apa-apa. Hanya berharap panas segera datang," imbuhnya.

Rusaknya akses jalanan menuju Salok Lai menjadi kendala utama pemasangan tiang. Cara termudah kendaraan melalui Jalan Mulawarman, tepatnya dekat SMA 7 dan Polsek Lamaru.

"Sementara kalau lewat jalan atas dari arah Waduk Teritip, kemungkinan kendaraan berat tidak dapat melalui jembatan yang tak seberapa kuat," ujarnya.

Bukan perjalanan mudah untuk menerangi Salok Lai. Warga harus bekerja keras hingga mendapat perhatian. Titik cerah mulai terlihat tahun lalu, saat PLN mengatakan akan melakukan pembangunan listrik.

Sebelumnya, listrik tidak pernah masuk selama 23 tahun terakhir kampung ini dibuka. Kebanyakan warga menggunakan genset untuk memenuhi kebutuhan energi. Namun, tentu saja genset juga digunakan terbatas.

Rata-rata hanya bertahan hingga pukul 22.00 Wita. "Pengajuan listrik ke PLN pernah dilakukan 2012. Saat itu penduduk mulai ramai dan jalan sudah terbuka," ucapnya.

Selama ini, Elsan dan keluarga memanfaatkan listrik dari tenaga surya atas inisiatif pribadi. Dia membeli alat solar cell yang sudah dia gunakan sekitar tiga tahun belakangan.

Meski begitu, listrik ini hanya mampu digunakan untuk lampu dan nonton televisi. Sebelum solar cell, Elsan hanya menggunakan lampu templok dengan bahan bakar minyak tanah.

Semenjak minyak tanah mahal, mereka mencari alternatif lain. Sisanya warga kebanyakan menggunakan mesin genset dan dompeng (diesel).
Setiap rumah membayar patungan sekitar Rp 150 ribu per bulan. "Listrik bisa digunakan dari magrib sampai pukul 22.00 Wita. Itu pun tidak bisa nyetrika karena anjlok aliran terbagi-bagi," ujarnya.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up