JawaPos Radar

Ditahan, Lucas Bantah Bantu Pelarian Eddy Sindoro

02/10/2018, 01:01 WIB | Editor: Kuswandi
Penyidik KPK
Ilustrasi: Penyidik KPK saat sedang melakukan penggeledahan (Teguh/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi langsung menahan advokad Lucas, usai beberapa saat diumumkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan merintangi penyidikan tersangka mantan petinggi Lippo Group Eddy Sindoro. Pengacara tersebut tersebut ditahan usai menjalani pemeriksaan sekitar 11 lamanya untuk kepentingan penyidikan.

"Ditahan untuk 20 hari ke depan di Rutan di Rutan Kavling K4 KPK," terang juru bicara KPK Febri Diansyah, kepada awak media, Selasa (2/10) dini hari.

Menanggapi penahanannya, Lucas yang keluar dari ruang pemeriksaan sekitar pukul 00.14 WIB mengenakan rompi tahanan oranye, mengaku tak tahu menahu perihal kaburnya Eddy Sindoro ke luar negeri.

Gedung KPK
Ilustrasi: Gedung KPK Merah Putih (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

"Saya terus terang jujur, proses penyidikan dan pemeriksaan dari KPK saya tidak tahu," kata Lucas sebelum dimasukkan ke mobil tahanan.

Karena merasa tak tahu menahu, dia pun membantah semua tudingan yang disematkan lembaga antirasuah padanya.

"Menurut saya apa yang dituduhkan bahwa saya menghalangi penyidikan dalam arti seolah-olah diduga membantu Eddi Sindoro bisa lolos dari Malaysia, keluar Indonesia saya juga tidak tahu dan sampai saat ini saya juga tidak dipertunjukkan juga bukti apa bahwa saya ada hal seperti itu," kilahnya.

Dalam kasus ini, sebelumnya Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan tersangka terhadap advokat Lucas. Penetapan tersangka dilakukan karena Lucas diduga dengan sengaja menghalangi, merintangi proses perkara penyidikan mantan petinggi Eddy Sindoro (ESI).

Penetapan tersangka ini berkaitan dengan kasus pengajuan Peninjauan Kembali (PK) perkara PT Across Asia Limited melawan PT First Media di PN Jakpus.

"KPK menemukan bukti permulaan yang cukup dengan sengaja mencegah, merintangi, menggagalkan penyidikan perkara pengajuan PK pada PN Jakpus dengan tersangka ESI," ungkap Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dikantornya, Senin malam (1/10).

Alasan lembaga antirasuah meningkatkan status penanganan perkara penyidikan terhadap Lucas, karena pertama, kata Saut, Lucas sengaja melakukan perbuatan dengan cara menghindarkan Eddy saat hendak ditangkap oleh otoritas Malaysia dan kemudian dideportasi atau diusir ke Indonesia.

"Kedua Lucas diduga berperan untuk tidak memasukkan tersangka ESI di wilayah Yurisdiksi Indonesia melainkan di keluarkan kembali ke luar negeri," imbuhnya.

Untuk itu, terhadap Lucas dikenakan Pasal 21 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dalam kasus ini, sebelumnya, KPK resmi mengumumkan penetapan tersangka Eddy Sindoro pada 23 Desember 2016 lalu. Eddy diduga memberikan suap kepada Panitera PN Jakarta Pusat Edy Nasution sebesar USD 50.000.

Suap diberikan agar Edy Nasution membantu pengurusan pengajuan Peninjauan Kembali (PK) perkara PT Across Asia Limited melawan PT First Media di PN Jakpus. Padahal, pengajuan itu telah melewati batas waktu yang ditentukan undang-undang.

Dalam berkas putusan Edy Nasution, Eddy Sindoro disebut sebagai inisiator suap pengurusan perkara di PN Jakpus. Terkait hal itu, Eddy meminta bantuan kepada Nurhadi untuk menerima berkas pendaftaran PK PT AAL.

Nurhadi lantas memerintahkan Edy Nasution untuk segera memasukkan berkas pendaftaran PK meski pengajuannya sudah melewati batas waktu. Uang suap kepada Edy Nasution kemudian diserahkan melalui perantara Doddy Ariyanto Supeno, orang kepercayaan Eddy Sindoro.

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up