JawaPos Radar

Empat Hari Keluarga Tak Ada Kabar, Kunto Rela Jadi Relawan di Palu

02/10/2018, 08:15 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Relawan Gempa
RELAWAN: Kunto Agung Kresnadi saat dijumpai di kawasan sekitar Tugu Muda, Semarang, Senin (1/10) malam. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Empat hari sudah Kunto Agung Kresnadi, 20, tak berkomunikasi dengan keluarganya. Dirinya belum mengetahui kondisi ayah, ibu, kakak, dan adiknya di sejak gempa bumi 7,4 skala richter melanda tanah kelahirannya, yakni Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) sore.

Lumpuhnya jaringan sinyal serta listrik di daerah terdampak gempa, membuat semua panggilan telepon Kunto kepada keluarganya tidak ada respons. Berkali-kali ia coba hubungi, selalu gagal. 

"Setelah gempa itu saya coba telepon dan nggak bisa. Kemudian lihat berita katanya jaringan sinyal sudah pulih, sama saja nggak bisa. Saudara di Poso kontak mereka juga tidak bisa. Mungkin handphone-nya mati karena listrik juga padam, jadi kontak terakhir sama kakak ya Jumat (28/9) pagi. Ketemu terakhir lebaran idul fitri kemarin," ujarnya saat dijumpai di Kawasan Tugu Muda, Semarang, Senin (1/10).

Relawan Gempa
GALANG DANA: Kunto dan rekan-rekan saat melakukan aksi sosial galang dana untuk korban bencana gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10) malam. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

Sejak tersiarnya pemberitaan soal gempa di Palu serta Donggala, awalnya mahasiswa Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang angkatan 2016 ini tak terlalu menggubris. Sampai ia lihat sendiri video amatir yang menampilkan adanya terjangan tsunami di Pantai Talise, Palu tidak berselang lama setelah gempa muncul.

Pasalnya, ia menyebut lokasi rumahnya di Jalan Poros Palu-Bangga, Tatanga, Sulawesi Tengah, cuma sekitar 10 menit dari bibir pantai. Sementara keluarga sang ayah berasal dari Klaten, Jawa Tengah, banyak dari pihak ibunya yang berasal atau asli Palu.

"Saya nggak bisa tidur sampai Sabtu (29/9) subuh. Makin hari tahu belum bisa dihubungi, perasaan saya makin campur aduk. Lihat bangunan hancur, ingat keluarga di rumah. Mau nangis di kampus, tapi malu. Teman-teman nenangin, ngajak salat bareng akhirnya," terangnya.

Kendati demikian, ia mengaku belum bisa menenangkan diri sampai bisa memastikan sendiri keluarga di kediamannya baik-baik saja. Hingga pada akhirnya, kakak angkatannya di Jurusan Planologi, Unissula mengabarkan bahwa Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjembatani para mahasiswa asal Palu yang berkuliah di provinsinya untuk bisa pulang kampung.

"Ketemulah saya dengan Pak Ganjar tadi pagi. Saya minta tolong untuk bisa dibantu berangkat ke Palu. Dan beliau malah menawarkan untuk jadi relawan bareng BPBD sekalian, dan saya mau," ujar pria berambut semi kribo kelahiran 8 Mei 1998 tersebut.

Ia yang menyanggupi tawaran dari Ganjar tersebut tak membutuhkan waktu lama guna mendaftarkan dirinya menjadi salah satu relawan di bawah komando BPBD Jateng. Dikatakannya, rombongan rencananya berangkat sembari membawa bantuan logisitik ke Surabaya via jalur darat tanggal 6 Oktober besok. 

Sehari berselang, rombongan baru menyeberang ke Makassar. Kemudian dilanjutkan kembali melalui perjalanan darat hingga ke Palu. Namun, sebelum itu semua, Kunto diminta mempersiapkan diri dimulai dari menyediakan pakaian serta obat-obatan pribadi.

"Rencananya di sana katanya seminggu. Tapi masih belum tahu apakah sama perjalanan atau murni di sananya. Yang jelas, sampai sana fokus nyari orang tua, bantu daerah sekitar rumah, baru balik BPBD lagi. Tapi misal diminta bantu sekuat tenaga, pasti saya semaksimal mungkin," imbuhnya. 

Sejatinya, ia berharap perjalanan menuju ke Palu tak perlu menunggu sampai tanggal 6 Oktober. Tapi apa daya, hal tersebut sudah diputuskan dan dia hanya bisa pasrah sambil pada waktu bersamaan, adik kandungnya di Klaten, Jawa Tengah, memintanya untuk segera mencari soal kepastian kabar keluarga tercintanya.

Pasrah saja mungkin tidak membantu dan pemikiran macam itulah yang dimiliki rekan-rekan Kunto di kampus. Senin (1/10) malam, mereka mengajaknya untuk melakukan kegiatan positif berupa aksi sosial penggalangan dana di kawasan Tugu Muda. Nantinya, uang terkumpul diberikan ke pihak penyalur di Palu sana. 

"Berangkat bareng tadi saya sempet mau nangis, terenyuh. Saya dari jauh, mahasiswa satu-satunya di angkatan saya dari Palu, kok mau mereka bantu sampai kaya gini. Bahkan ada yang mau nemenin berangkat jadi relawan, tapi belum tahu dia dapat izin orang tuanya atau tidak. Saya salut seperti itu karena suka duka itu pasti dibagi," katanya.

Hal lain yang Kunto lakukan selain terus memerbarui perkembangan terakhir soal kondisi di Palu melalui sosial media, ia juga mengaku sudah mengontak semacam ikatan persaudaraan mahasiswa Palu yang berkuliah di Pulau Jawa. Seperti di Jogjakarta sana.

"Saya dapat info katanya ada anak Undip (Universitas Diponegoro) yang dari Palu, tapi saya belum ketemu. Tapi yang jelas, saya belum bakal tenang kalau belum bisa memastikan kondisi keluarga saya. Saya pingin banget cepet berangkat," cetusnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up