JawaPos Radar

Ikuti Challenge di Medsos, 55 Anak SMP Nekat Sayat Tangan Sendiri

01/10/2018, 19:25 WIB | Editor: Budi Warsito
Ikuti Challenge di Medsos, 55 Anak SMP Nekat Sayat Tangan Sendiri
Ilustrasi (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sebanyak 55 anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 18 Pekanbaru (sebelumnya 56), nekat menyayat tangannya sendiri. Setelah ditelusuri, ternyata perbuatan itu dilakukan karena mereka mengikuti challenge atau tantangan yang ada di media sosial (Medsos).

Kepala Sekolah SMPN 18 Pekanbaru, Lily Deswita MPd mengatakan, terungkapnya hal itum, setelah pihaknya melakukan razia terhadap telepon genggam para muridnya sekitar dua pekan yang lalu. "Awalnya, kita ingin menerapkan disiplin. Dengan melakukan razia pelajar yang membawa Hp. Razianya memang dilakukan dua kali sebulan. Eh Tiba-tiba, kita mendapatkan ada pelajar tangannya disayat,' kata Lily saat dijumpai wartawan, Senin (1/10).

Saat itu, salah seorang guru melihat pakaian yang menutupi lengan seorang murid tersingkap. Sontak guru itu kaget melihat adanya luka sayatan di lengan muridnya. Sang guru langsung menanyai murid tersebut, setelah dicecar pertanyaan yang bertubi-tubi, akhirnya murid itu mengaku melakukan hal nekat tersebut karena mengikuti sebuah challenge yang tersebar di WhatsApp dan Instagram.

Kemudian para guru di sekolah itu memeriksa satu per satu muridnya. Alhasil, luka sayatan ditemukan pada 55 murid. 54 murid perempuan sedangkan satu diantaranya merupakan laki-laki. "Mereka merasakan sakit melakukan tindakan menyanyat tangan tersebut," bebernya.

Meski telah mengaku, namun Lily merasa khawatir apabila anak-anak didiknya itu terjangkit narkoba, Lily langsung berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Pekanbaru. "Awalnya, kita duga mereka berbohong. Sehingga, kita langsung kontak pihak BNNK," kata dia.

Setelah dihubungi, barulah BNNK melakukan assessment terhadap para murid. Mulanya, pihak BNN mengira kalau anak-anak belasan tahun ini kecanduan minuman berenergi merek Torpedo. Sebab, mereka mengaku meminum minuman itu setiap hari.

Oleh pihak BNN, para murid dilakukan tes urin. Hasilnya urin mereka positif mengandung zat Benzo yang terkandung dalam minuman torpedo. Untuk lebih pasti, BNN kemudian mengirimkan sampel Torpedo ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Pekanbaru.

"Hasilnya sudah kita dapat, ternyata keterangan mereka benar. Mereka hanya ikut-ikutan callenge sayat tangan yang sedang viral," ucap Lily.

Walaupun negatif, tetapi pihak sekolah sudah mengimbau para pemilik kantin untuk tidak menjual minuman itu lagi. Pihak sekolah juga kata dia, sudah berkoordinasi dengan para orang tua murid. "Para orang tua juga mengaku tidak mengetahui hal tersebut," tuturnya.

Dengan adanya insiden ini, pihak sekolah akan semakin memperketat pengawasan. Ia berharap, kedepannya peristiwa serupa tidak terulang. Dengan melakukan koordinasi dengan pihak orang tua pelajar. 

Terpisah, Kepala BNNK Pekanbaru AKBP Sukito mengatakan, pihaknya sudah menerima hasil uji dari BPPOM Pekanbaru. Memang, diakuinya hasilnya negatif. "Memang hasil dari BPOM negatif," ungkapnya. 

Soal rilis pertama, pihaknya menyatakan, minuman itu (Torpedo) mengandung Benzo. Ia menjelaskan, kadarnya mengandung benzo apabila dikomsumsi secara berlebihan. "Iya kalau minum empat atau lima gelas, mungkin bisa terdeteksi. Hal itu, sesuai dengan himbauan di kemasan bahwa, torpedo tidak diperuntukkan dikomsumsi ibu hamil dan anak-anak,"pungkasnya.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up