JawaPos Radar

Gempa, 1.200 Narapidana di Palu Lolos dari LP

01/10/2018, 17:40 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
gempa, tsunami, gempa sulteng, gempa sulawesi tengah, tsunami palu,
Pemerintah Indonesia melalui Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), Sri Puguh Utami mengatakan bahwa ada 1.200 narapidana yang keluar dari lembaga permasyarakatan di Sulawesi, yang hancur setelah bencana gempa bumi dan tsunami pada Jumat, (28/9) (AP)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah Indonesia melalui Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), Sri Puguh Utami mengatakan bahwa ada 1.200 narapidana yang keluar dari lembaga permasyarakatan di Sulawesi, yang hancur setelah bencana gempa bumi dan tsunami pada Jumat, (28/9).

Sri Puguh mengatakan, para narapidana telah melarikan diri dari dua lembaga permasyarakatan yang kelebihan kapasitas di Palu dan di Donggala, daerah yang juga terkena bencana.

"Semuanya awalnya baik-baik saja ... tapi tidak lama setelah gempa, air keluar dari bawah halaman penjara yang menyebabkan tahanan panik dan kemudian lari ke jalan," kata Sri Puguh Utami pada Senin (1/10), ia menambahkan bahwa air itu bukan dari tsunami.

gempa, tsunami, gempa sulteng, gempa sulawesi tengah, tsunami palu,
581 tahanannya menyerbu penjaga dan melarikan diri agar bebas. Mereka mendobrak melalui dinding yang runtuh oleh guncangan berkekuatan 7,4 SR (Reuters)

"Saya yakin mereka lolos karena mereka khawatir mereka akan terkena dampak gempa. Ini pasti masalah hidup dan mati bagi para tahanan," katanya.

Satu penjara di kota Palu yang dilanda tsunami dibangun untuk menampung hanya 120 orang. Namun, 581 tahanannya menyerbu penjaga dan melarikan diri agar bebas. Mereka mendobrak melalui dinding yang runtuh oleh guncangan berkekuatan 7,4 SR.

Lembaga permasyarakatan di Donggala juga ada yang terbakar. Pembakaran itu diduga dipicu oleh tahanan yang marah yang menuntut untuk melihat keluarga mereka.

"Mereka panik setelah mengetahui bahwa Donggala terkena gempa yang parah," kata Utami.

"Petugas penjara bernegosiasi dengan tahanan untuk mengizinkan mereka pergi untuk memeriksa keluarga mereka. Tetapi beberapa tahanan tampaknya tidak cukup bersabar dan melakukan pembakaran," katanya.

Beberapa narapidana dipenjara karena korupsi dan pelanggaran narkotika, katanya. Hanya lebih dari 100 tahanan di dua fasilitas di Palu yang masih dipenjara, tetapi para penjaga kewalahan berjuang untuk memberi mereka makan.

"Penjara tidak lagi memiliki cukup makanan," kata Utami. "Para pejabat kemudian mencoba membeli persediaan dari toko-toko di sekitar penjara yang masih terbuka," lanjutnya

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up