JawaPos Radar

Liga 1 2018

Saatnya Ada Aturan Tegas untuk Menghukum Suporter, Bukan Hanya Klub

01/10/2018, 16:23 WIB | Editor: Agus Dwi W
liga 1 2018
Kurangnya ketegasan dari PSSI membuat suporter tetap cenderung berprilaku buruk. (Angger Bondan/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Dari sekian banyak hukuman yang dijatuhkan Komisi Disiplin PSSI kepada klub berawal dari ulah buruk suporter. Lebih banyak lagi adalah karena aksi pelemparan botol dan menyalakan flare di dalam stadion. Namun, sejauh ini hanya klub yang dihukum. Suporternya masih kurang tersentuh ketegasan otoritas sepak bola Indonesia.

Menyalakan flare dan pelemparan botol ke lapangan menjadi pelanggaran yang paling sering berujung sanksi dan denda Komdis PSSI musim ini. Dari klub lima besar terkena denda, yakni Persebaya Surabaya, Arema FC, Sriwijaya FC, PSMS Medan, dan Persib Bandung, total denda telah mencapai Rp 2,5 miliar.

Jumlah denda itu belum ditambah dengan hukuman terhadap 13 klub Liga 1 lainnya serta insiden di Liga 2. Karena itu, klub juga menyadari bahwa antisipasi perlu dilakukan untuk mengurangi tingginya sanksi dan denda akibat oknum suporter mereka menyalakan flare atau melempar botol ke lapangan.

Sekretaris PSMS Julius Raja mengatakan, mereka telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi insiden seperti itu. Mulai dari menambah jumlah keamanan, mendekati pentolan-pentolan suporter, hingga memberi diskon tiket. Bahkan tiket boleh dibayar setelah pertandingan agar penonton mau datang dan bersikap baik.

”Tapi, tetap saja seperti itu (bersikap buruk). Mereka ini meniru apa yang dilihatnya di wilayah lain. Melihat tidak ada hukuman, ya dilakukan juga akhirnya,’’ paparnya.

Padahal, setiap aksi buruk yang dilakukan suporter, sanksi dan denda dijatuhkan kepada klub. Tapi, suporter kadang tidak peduli. Terlebih tidak ada efek jera untuk mereka.

’’Karena itu, kami harap ada ketegasan. Jangan klubnya saja yang didenda. Suporter yang bertindak buruk, nyalain flare, dihukum juga. Buat undang-undangnya,’’ jelasnya.

Apalagi, menurut dia, saat ini era sudah sangat modern. Operator Liga, PT Liga Indonesia Baru (LIB) pastinya punya tim-tim khusus yang bisa memantau tindakan suporter. ’

’Ada foto dan rekaman. Cari suporter itu, kami siap bantu. Adili dengan tegas, jangan klub saja yang didenda,’’ ucapnya.

Hal itu senada dengan manajemen Arema FC. Media Officer Arema FC Sudarmaji menyebut bahwa Komdis PSSI seharusnya juga memberi sosialisasi terkait denda dan sanksi kepada suporter. Harapannya, sosialisasi itu bisa memberikan kesadaran bahwa tindakan buruk suporter yang menanggung adalah klub.

Di luar itu, Arema FC sendiri juga melakukan pengetatan keamanan di setiap pertandingan. Salah satunya menambah jumlah Polisi Wanita (Polwan) di pintu masuk ketika pemeriksaan tiket dan barang. ’’Karena-kadang, flare dan segala macamnya itu disimpan di dalam anggota tubuh,’’ jelasnya.

Di sisi lain, Koordinator Save Our Soccer Akmal Marhali menjelaskan, banyaknya tingkah laku buruk suporter yang merugikan klub berawal karena tidak ada edukasi yang baik. Terutama dari klub dan PSSI. Idealnya, uang denda yang dibayar klub digunakan untuk melakukan edukasi kepada suporter. 

(rid/ham)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up