JawaPos Radar

Begini Kronologi Terbakarnya Rutan Donggala Hingga Seluruh Napi Kabur

01/10/2018, 15:41 WIB | Editor: Estu Suryowati
Begini Kronologi Terbakarnya Rutan Donggala Hingga Seluruh Napi Kabur
ILUSTRASI. Gempa dan tsunami yang melanda Sulteng menyebabkan ribuan warga binaan dan tahanan kabur. (dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Gempa bumi berkekuatan 7,7 Skala Richter dirasakan oleh semua orang yang berada di wilayah terdampak, tak terkecuali warga binaan. Mereka tersebar di sejumlah rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Satu rutan pun terbakar akibat gempa disertai tsunami yang melanda wilayah Kabupaten Donggala. Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas) Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Budi Utami menjelaskan kronologi terbakarnya Rutan Donggala tersebut, hingga menyebabkan sejumlah warga binaan kabur.

Awalnya, kata Sri Puguh, warga binaan mengikuti instruksi kepala rutan agar selamat dari reruntuhan. "Kemudian ketika ada getaran berikutnya serta mendengar bahwa pusat gempa ada di Donggala mereka panik," kata Sri Puguh di Kantor Ditjen Pas, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin (1/10).

Begini Kronologi Terbakarnya Rutan Donggala Hingga Seluruh Napi Kabur
Menkumham Yasonna Laoli bersama Dirjen PAS Kemenkumham Sri Puguh Budi Utami. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

Sri Puguh menuturkan, seketika itu warga binaan tidak terkendali. Mereka mencoba menerobos sistem pengamanan hingga akhirnya bangunan Rutan Donggala terbakar.

"Sebenarnya sudah ada negosiasi sedikit demi sedikit, diizinkan untuk melihat keluarganya, memang paniknya luar biasa. Tapi ternyata ada juga yang tidak sabar, entah bagaimana menyulut kebakaran itu," ungkapnya.

Guna mengetahui secara detail kronologi pemicu terjadinya kebakaran, Sri Puguh memastikan, pihaknya telah membentuk satuan tugas (Satgas). Beruntung tidak ada korban jiwa dari terbakarnya Rutan Donggala.

"Yang dapat diselamatkan ada beberapa alat elektronik dan senjata yang dititipkan ke Polres," ungkapnya.

Sayangnya, gedung Rutan Donggala yang dibangun pada 1968 itu hanya tersisa bagian depan saja. Lalu, ada masjid namun kondisinya sudah tidak bisa digunakan lagi.

"Bangunan depan kami pikir sudah nggak bisa dipergunakan lagi. Tapi, hari ini teman-teman kami sedang melakukan audit dengan jajaran yang ada di sana," paparnya.

Sebanyak 333 warga binaan yang seluruhnya melarikan diri itu diberi waktu sepekan untuk segera melapor. "Kami beri waktu satu minggu untuk menjadi informasi tentang keluarganya," pungkasnya.

(ce1/rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up