JawaPos Radar

Sekjen Fornas: Bonus Demografi Jadi Tangan Bangsa Kita

01/10/2018, 11:14 WIB | Editor: Imam Solehudin
Sekjen Fornas
Sekjen Fornas Bhineka Tunggal Ika, Taufan Hunneman. Taufan mengkritik pernyataan Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo terkait G30S PKI. (Dok.JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Forum Nasional (Fornas) Bhineka Tunggal Ika mengingatkan betapa penting lahirnya satu generasi yang bebas dari konflik masa lalu. Hal tersebut berkaitan dengan peristiwa G30S PKI.

Sekjen Fornas Bhineka Tunggal Ika, Taufan Hunneman mengatakan saat ini sudah banyak pemikiran bahwa Peristiwa 1965 bukanlah peristiwa tunggal, melainkan banyak aktor serta terkait perang dingin. Hal tersebut sebagaimana diutarakan Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

"Anak muda sekarang jauh lebih clear melihat masa depan bangsa ini. Sehingga tidak mau kembali mempersoalkan luka lama bangsa. Tetapi merujuk pada upaya membentuk sejarah yang menjadikan bangsa ini jauh lebih peradaban," beber Taufan kepada JawaPos.com, Senin (1/10).

Taufan mengungkapkan, pernyataaan Gatot sejatinya telah kehilangan spiritnya. Sebab, pada satu sisi komunisme internasional telah mengalami kebangkrutan ideologi. Itu seiring kehancuran Uni Soviet. Sementara Tiongkok menuju ke arah kapitalisme.

"Pernyataannya hanya mengorek luka lama yang sebenarnya oleh mayoritas rakyat telah dilupakan. Tantangan ke depan bangsa ini adalah bagaimana bonus demografi ini mampu menciptakan peluang usaha dan memenanginnya," ungkap pria yang berprofesi sebagai advokat itu.

"Gatot gagal membaca gerak dan arah dunia, yang notabene sedang menuju pada kemampuan kreativitas serta era digitalisasi global," tegasnya.

Taufan menilai pandangan Gatot tidak sesuai dengan fenomena proxy war yang sedang terjadi saat ini. Masa depan di mana proxy war saat ini jelas berbeda dengan perang dingin.

"Melainkan lebih menekankan bukan pada ideologi pengaruh melainkan pada perdagangan serta jaringan permodalan antar negara. Ini menjelaskan kenapa Inggris keluar dari UE (Uni Eropa)," ungkap dia.

Taufan menyarankan agar Gatot tak mempolitisasi komunisme phobia ini "Tetapi kita tetap harus waspada terhadap segala bentuk upaya menganggu pancasila dan NKRI," pungkasnya.

(yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up