JawaPos Radar

Mengenal dan Belajar Nilai Hidup dari 5 Permainan Tradisional

01/10/2018, 13:00 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
permainan tradisional, cara main permainan tradisional,
Permainan tradisional Sonda yang jarang dimainkan anak-anak. (Situs Budaya Jawa)
Share this image

JawaPos.com - Tiap daerah di Indonesia memiliki permainan tradisional. Namun, tak hanya sekedar permainan menang atau kalah, permainan khas daerah ini juga memiliki arti tersendiri dan nilai dalam hidup.

Seiring perkembangan zaman, permainan tradisional mulai ditinggalkan. Padahal, cukup membutuhkan alat yang sederhana, permainan tradisional sudah dapat dimainkan. Bersumber dari Komunitas PlayPlus Indonesia, Senin ( 1/10), setidaknya ada 5 permainan tradisional khas daerah yang masih bisa dimainkan.

1. Catur Aceh

Dahulu permainan ini dilaksanakan di waktu senggang saat maghrib. Biasanya permainan ini dilakukan dibawah kolong rumah tradisional. Catur Aceh ini memiliki nilai-nilai yaitu mengasah ketangkasan berpikir dalam menyerang dan menghambat lawan. Lewat permainan ini, pemain diasah kemampuannya dalam mengatur strategi dan taktik penyerangan serta pertahanan. Bahkan bisa mengendalikan emosi pemain dan membiasakan saling menghargai serta jujur.

2. Ula Lampung

Permainan Ula mempunyai kemiripan dengan permainan bekel, tetapi tidak menggunakan bola. Bola dan kuningan yang digunakan dalam permainan bekel digantikan dengan kerikil atau biji buah karet. Dalam bahasa Lampung ‘ula’ berarti gacou. Biasanya dimainkan oleh anak perempuan dan kadang laki-laki yang berusia antara 7-12 tahun sekura-kurangnya berjumlah 2 pemain. Permainan ini memiliki nilai mengajarkan anak-anak untuk dapat hidup sederhana. Hanya dengan batu kerikil saja mereka sudah bisa melakukan permainan yang bahannya dapat diperoleh di sekitar rumah. Ula juga dapat melatih kemampuan seperti keterampilan, konsentrasi, dan koordinasi visual anak-anak.

3. Sumenda Sulawesi Tengah

Sumenda adalah permainan yang berasal dari suku Mori di kecamatan Petasia, Poso, Sulawesi Tengah. Permainan ini sejenis perlombaan dengan membawa pelepah kelapa di salah satu anggota tubuh dan berjalan seimbang menuju garis sasaran dengan tidak menjatuhkan pelepah. Permainan ini memiliki nilai melatih sportifitas dan melatih ketenangan dalam menghadapi masalah.

4. Sonda Jawa Timur

Kata Sonda berasal dari bahasa Belanda yaitu ‘zondag-maandag’. Sonda menggambarkan perebutan ‘sawah’ pada jaman kolonial Belanda. Sementara itu di Inggris, permainan ini dikenal dengan’hopskotch’ yang konon telah ada sejak jaman Romawi Kuno. Dari situ dapat dipahami bahwa Sonda memiliki umur ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun. Tidak heran jika permainan ini dikenal dengan berbagai nama yang berbeda di berbagai tempat. Permainan ini memiliki nilai bahwa anak-anak belajar bersosialisasi, menghargai orang lain, melatih kejujuran, kesabaran, ketelatenan dam sportifitas dalam mematuhi peraturan.

5. Dakon DIY Yogyakarta

Kata Dakon berasal dari kata Dhaku (Jawa) yang berarti mengakui sesuatu sebagai miliknya atau diakui. Permainan ini memiliki nilai melatih hidup hemat, mengajarkan strategi dalam hidup, melatih hidup bermasyarakat, dan berbagi dengan sesama untuk belajar berbagi dengan orang lain dengan cara bernegosiasi.

(Inr/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up