JawaPos Radar

Tak Hanya Istri, Para Suami Juga Harus Pahami Alat Kontrasepsi

01/10/2018, 08:35 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
alat kontrasepsi, rencana kehamilan, pil kb,
Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Dr. Emi Nurjasmi M. Kes. saat menjelaskan pentingnya penggunaan alat kontrasepsi untuk mengendalikan kehamilan. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Konsep pemikiran 'banyak anak banyak rezeki' barangkali sudah semakin sulit diterapkan di era modern saat ini. Sebab membesarkan anak juga memerlukan banyak biaya terutama untuk memenuhi kebutuhan gizi dan pendidikan buah hati.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Dr. Emi Nurjasmi M. Kes. mengatakan layanan kesehatan reproduksi merupakan tugas pokok IBI, salah satunya adalah layanan penggunaan dan penyuluhan kontrasepsi. Bidan merupakan garda terdepan yang tidak hanya melayani kebutuhan kontrasepsi, tetapi juga sebagai agent of change.

"Kami berharap pemerintah mau terus membantu dalam hal mengedukasi masyarakat khususnya perempuan mengenai pentingnya kesehatan reproduksi melalui media," katanya dalam diskusi bersama PT Bayer baru-baru ini.

Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang enggan menggunakan alat kontrasepsi untuk mengendalikan kehamilan. Selain faktor alasan keyakinan dan budaya, ada suami yang tidak mengizinkan istrinya untuk menggunakan alat kontrasepsi. Menanggapi hal itu, Bidan Emi membenarkan kendala tersebut masih dihadapi para bidan di lapangan.

"Bagaimana kami berikan informasi dan komunikasi pada pasangan. Bagaimana KB tak hanya semata-mata mengendalikan jumlah anak dan pemberdayaan perempuan. Kenyataan di lapangan juga seperti itu, bidan sudah berbusa-busa bicara. Eh para ibu-ibu bilang 'Iya nanti ya bu bidan, saya minta izin suami dulu ya. Nah suami-suami ini perlu juga diminta informasi dan edukasi," tukasnya.

Maka dengan kondisi tersebut, membuat para bidan juga menyasar edukasi bagi para suami. Sehingga suami paham dan ikut menggunakan alat kontrasepsi.

"Di samping atur jumlah anak, suami juga akan paham mengatur kesejahteraan keluarga. Tantangan-tantangan dalam konteks, banyak anak banyak rezeki membuat bidan harus mampu jelaskan secara komprehensif. Sehingga anak bisa mendapatkan hak-haknya ketika lahir," tegas Emi.

Kemudian selain alat kontrasepsi, para bidan juga mengedukasi para suami untuk mencegah depresi saat ibu hamil dan melahirkan. Setelah istri melahirkan, bidan juga tetap mengedukasi agar suami mendukung pemberian ASI eksklusif pada buah hati.

"Pasangan ini penting sekali. Suami harus dilibatkan. Karena hamil itu harus bahagia. Jangan sampai ibu depresi, pertumbuhan janin terganggu. Jika sudsh depresi, bayi bisa lahir sebelum waktunya, ASI tak keluar, hingga ibu tak peduli pada bayinya. Maka peran suami sangat penting," tutupnya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up