JawaPos Radar

Komitmen Soal Keterwakilan Perempuan, Golkar Diapresiasi

30/09/2018, 20:29 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Komitmen Soal Keterwakilan Perempuan, Golkar Diapresiasi
Ketua Umum Kesatuan Perempuan Partai Golongan Karya (KPPG) Hetifah Sjaifudian (Humas DPR/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Faktor utama kurangnya keterwakilan perempuan dinilai karena masih kentalnya budaya patriarki. Hal itu menyebabkan akses dan partisipasi perempuan menjadi terbatas.

Termasuk terkait harus meminta izin ke pihak laki-laki terlebih dahulu. Namun, Partai Golkar menilai justru perempuan berperan penting dalam bangsa.

Menyikapi hal itu, Ketua Umum Kesatuan Perempuan Partai Golongan Karya (KPPG) Hetifah Sjaifudian menegaskan, Partai Golkar memiliki keyakinan bahwa perempuan memegang kunci dalam pembangunan bangsa dan negara.

Komitmen atas keterwakilan perempuan ditunjukkan dengan terdaftarnya 217 orang atau 37,8 persen caleg DPR RI perempuan dari Partai Golkar.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI itu melanjutkan, dari jumlah 217 tersebut, lebih dari 60 persen berasal dari kalangan muda. Mereka berusia kurang dari 50 tahun. Mereka juga mewakili generasi millenial yang melek politik dan kaya pengalaman organisasi kemasyarakatan.

“Untuk membangun kader yang capable dan progresif, Partai Golkar juga memberikan pembekalan khusus kepada caleg perempuan. Hal ini menegaskan perempuan bukan sekadar objek pelengkap, tetapi salah satu kekuatan utama Partai Golkar,” tambah Hetifah.

Pembekalan caleg juga dibarengi dengan launching Help Desk Center bagi caleg perempuan Partai Golkar, juga program Yellow Sista yang merupakan usaha memperkenalkan politik pada perempuan milenial.

Sementara itu, pengamat Politik Universitas Padjajaran Antik Bintari menyampaikan, perempuan seolah tidak memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan secara individual sebagai warga negara.

"Ini dikarenakan kecenderungan subordinasi atau anggapan urusan publik terutama politik bukan ranah perempuan,” kata Antik Bintari dalam keterangan tertulis.

Antik Bintari juga menyatakan apresiasi atas kemajuan perempuan sebagai bentuk partisipasi politik untuk mencapai kesetaraan dan keadilan.

"Kita perlu terus mendorong budaya politik yang harus berubah, di mana tidak lagi memposisikan perempuan sebagai subordinat," katanya.

"Demokrasi adalah satu-satunya sistem yang diharapkan dapat memberikan peluang perempuan bersama dengan laki-laki sebagai warga negara yang setara,” sambung Antik.

(yuz/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up