JawaPos Radar

Dua Pengajar Universitas Yarsi Raih Predikat Dosen Berprestasi

30/09/2018, 19:45 WIB | Editor: Imam Solehudin
Yarsi
Rika Yuliwulandari (kebaya merah) dan Nurul Huda usai mendapat penghargaan dosen terbaik dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Kemenristekdikti (Ist For JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Universitas Yarsi kembali menorehkan prestasi membanggakan. Setelah Akreditasi A kembali didapatkan Fakultas Kedokteran, giliran para dosen yang diganjar penghargaan.

Dua pengajar Universitas Yarsi mendapat predikat dosen berprestasi tingkat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Kopertis) wilayah III tahun 2018.

Rika Yuliwulandari terpilih sebagai pemenang pertama kategori sains dan teknologi. Sedangkan kategori sosial dan humaniora disabet Nurul Huda.

Kedua dosen terbaik ini mampu bersaing dengan dosen-dosen dari 300 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tersebar di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Ketentuan secara umum dari LLDIKTI III atas kriteria penilaian ini didasarkan pada aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi. Yaitu bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Rika sendiri tercatat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi. Dia telah meneliti tentang Farmakogenomik untuk melihat peran genetik terhadap timbulnya efek samping obat, serta kerentanan genetik terhadap penyakit mikobakteri (mycobacterial diseases), seperti lepra dan tuberkulosis, selama bertahun-tahun.

Penelitian tersebut diarahkan pada aspek kerentanan genetik terhadap lepra, tuberkulosis dan hepatotoksisitas akibat obat tuberkulosis (TB) pada populasi di Indonesia.

"Selama ini, penelitian mengenai kerentanan genetik terhadap penyakit mikobakteri dan efek samping obat di Indonesia belum dilakukan secara komprehensif," kata Rika.

Oleh karenanya, penelitiannya diklaim sangat penting mengingat keragaman genetik dari penduduk Indonesia yang cukup besar. Hasil dari penelitian-penelitian tersebut telah dituangkan dalam bentuk publikasi ilmiah internasional, kit deteksi genetik, buku ajar, paten dan hak cipta serta berbagai kolaborasi penelitian baik tingkat nasional maupun internasional.

"Kami juga memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat baik berupa media cetak maupun di media televisi," urai Rika.

Yang menarik untuk kali pertama kategori sosial dan humaniora dimunculkan pada tahun ini. Hal ini dikarenakan, dari sejak pertama kali pemilihan dosen berprestasi dilakukan, yakni dari tahun 2004, pemenang yang muncul selalu dari bidang sains dan teknologi.

(yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up