JawaPos Radar

Labuh Sembuyo, Warisan Warga Pesisir Malang

Bikin Tumpeng Setinggi Dua Meter, Diarak Lalu Dilarung ke Tengah Laut

30/09/2018, 13:52 WIB | Editor: Dida Tenola
Bikin Tumpeng Setinggi Dua Meter, Diarak Lalu Dilarung ke Tengah Laut
Tradisi Labuh Sembuyo di Kabupaten Malang juga bisa disaksikan wisatawan. (Tika Hapsari/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Warga pesisir di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang punya cara tersendiri untuk bersyukur. Setiap tahun mereka menggelar Labuh Sembuyo atau petik laut. Ini kisahnya.

Bikin Tumpeng Setinggi Dua Meter, Diarak Lalu Dilarung ke Tengah Laut
Kapal membawa tumpeng dan sedekah para nelayan ke tengah laut. (Tika Hapsari/ JawaPos.com)

Dian Ayu Antika Hapsari- Malang 

Puluhan orang yang mayoritas nelayan, tampak memanggul sebuah gunungan, Kamis (27/9). Itu bukan sembarang gunungan. Terbuat dari nasi kuning berbentuk tumpeng.

Pucuk tumpeng itu menyembul ke angkasa. Tingginya hampir 2 meter. Di sekililingnya, aneka lauk pauk serasa membuat rongga mulut dibanjiri air liur. Mulai ayam ingkung, mi goreng, keringan tempe, hingga kering tempe. Benar-benar menggugah selera.

Gunungan tumpeng itu tidak setiap hari disajikan. Nelayan di Tambakrejojo hanya membuatnya pada hari yang istimewa. Yakni saat Labuh Sembuyo.

Labuh Sembuyo, merupakan sedekah laut yang digelar setiap tahun oleh masyarakat nelayan setempat. Bukan cuma tumpeng setinggi 2 meter, namun juga ada jolen berisi aneka hasil bumi dan laut. Jolen merupakan tandu untuk meletakkan sedekah bumi.

Selain jolen yang berisi beragam hasil laut dan bumi, juga terdapat miniatur perahu nelayan.  Miniatur ini dibuat dengan apik, teliti dan detail. Sekali sedekah, para nelayan bisa merogoh kocek hampir Rp 15 juta.

Segala macam ubo rampe Labuh Sembuyo ini kemudian didoakan oleh tokoh agama setempat. Setelah semua merapalkan doa, miniatur lengkap dengan perahunya itu dikirab keliling desa.

Jangan lupakan juga kambing kendit yang disembelih warga. Kambing kendit dalam kepercayaan masyarakat Jawa merupakan hewan yang kerap dijadikan ubo rampe dalam kegiatan spiritual. Bewarna hitam pekat dengan bulu putih melingkar di sepanjang perut. Serupa dengan ikat pinggang. 

Untuk pengiring ubo rampe Labuh Sembuyo, terdapat rombongan penari; warga yang berpakaian ala karnaval; dan sepasang laki-laki dan perempuan berdandan ala putra dan putri raja. Mereka jalan di barisan depan. Biasanya warga menyebut dengan manten-mantenan.

Setelah dikirab, mereka kemudian berhenti sejenak di bibir pantai. Ada prosesi seremonial singkat sebelum semua persembahan itu dilarung ke laut

Di atas hamparan laut biru, kapal-kapal nelayan dengan ukuran besar sudah siap. Kapal-kapal itu menanti tidak jauh dari dermaga di sekitar tempat pelelangan ikan (TPI) Pondok Dadap. Di belakangnya, terdapat rakit yang sudah diikat tali tambang.

Rakit itu digunakan untuk meletakkan gunungan tumpeng dan jolen berisi hasil bumi dan laut. Kemudian ditarik hingga ke tengah laut dengan kepal besar. 

Puncak atau bagian paling seru tersaji ketika dilarung ke tengah laut. Warga yang sebagian besar nelayan dan pengunjung, ada yang sudah menunggu di tengah laut. 

Menggunakan sekoci, mereka menunggu datangnya kapal besar yang menarik rakit berisi sedekah bumi. Begitu rakit itu tiba, warga dan pengunjung yang sudah tumpek blek di tengah laut, langsung berebut tumpeng. Bagi yang melihat, termasuk wartawan JawaPos.com yang baru pertama menyaksikan tradisi itu, pemandangan saat warga saling berebut tampak ngeri-ngeri sedap. Jantung ini rasanya mau copot, seolah-olah ikut dilarung. 

Bayangkan saja, puluhan bahkan mungkin ratusan orang berebut tumpeng dan sedekah bumi di tengah laut. Di atas kapal yang dipermainkan ombak. Kecipak air laut bersahutan seru.

Sang tirta memang sedang bersahabat saat itu. Gelombang tak terlampau tinggi, seperti beberapa waktu lalu. Rasa ngeri sontak hilang. Rasanya ingin ikut bergabung merasakan suka cita para nelayan.

Bagi warga dan pengunjung, pengalaman berebut di tengah laut menjadi hal yang tak terlupakan. Misalnya saja Wicaksono, 28, pengunjung dari Pasuruan. Dia sungguh excited. Momen itu tidak akan bisa dilupakan sepanjang napasnya berembus."Unik dan mengasyikkan. Sempat takut tercebur laut, tapi alhamdulilah enggak. Pak perahu yang mengantarkan saya sudah lihai," tuturnya kepada JawaPos.com. 

Ketua Panitia Labuh Sembuyo Sudarsono menjelaskan, kegiatan ini sudah dijalankan setiap tahun. 2018 adalah perayaan yang ke-38. "Sejak TPI Pondok Dadap itu berdiri," ujarnya yang diamini oleh Camat Sumbermanjing Wetan Agus Hariyanto. 

Darsono-sapaan akrabnya-, menambahkan,Labuh Sembuyo merupakan bentuk rasa syukur warga pesisir. Terutama bagi nelayan. Hasil laut mereka melimpah, begitu juga dengan hasil bumi. "Harapannya, tahun ini dan tahun depan, hasil laut juga melimpah. Masyarakat dan nelayan terhindar dari musibah," tambahnya. 

Darsono menambahkan, kegiatan yang menjadi even tahunan itu dikemas dengan meriah. Dana yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp 213 juta. Hasilnya didapatkan dari patungan para nelayan yang berjumlah 2.000 orang.

Warga butuh waktu seminggu untuk mempersiapkan tumpeng dan jolen serta aneka sedekahnya. Ketika hari H, para nelayan libur dan tidak melaut. "Namanya kami duwe gawe , duwe hajat, jadi ya libur. Semua bersuka cita," ucap Darsono.

 

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up