JawaPos Radar

Terseret Bersama Anak, Tertutup Asbes Empat Jam Setelah Gempa Palu

30/09/2018, 10:33 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Terseret Bersama Anak, Tertutup Asbes Empat Jam Setelah Gempa Palu
Suasana kota Palu, Sabtu (29/9) setelah gempa bumi melanda (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Sore itu mestinya jadi sore yang menyenangkan bagi Dwi Rahayu. Pantai Talise, Palu, tempatnya berdagang minuman ringan, ramai dikunjungi orang. Dagangannya pun ikut laris.

Jumat sore lalu itu tengah dihelat Festival Palunomoni di pantai tersebut. Ajang tahunan itu dihelat untuk merayakan hari ulang tahun Palu, ibu kota Sulawesi Tengah.

Tapi, keceriaan tersebut berubah jadi jerit tangis ketika gempa mengguncang jelang magrib.

Terseret Bersama Anak, Tertutup Asbes Empat Jam Setelah Gempa Palu
Suasana kota Palu, Sabtu (29/9) setelah gempa bumi melanda (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)

Disusul tsunami setinggi 2 meter. "Waktu ada gelombang pertama (tsunami), saya belum sempat lari," terang Dwi saat ditemui Jawa Pos di RS Bhayangkara Palu tadi malam (29/9).

Sang suami dan anak keduanya sebenarnya sudah mengajaknya lari. Namun, Dwi masih sibuk dengan dagangannya. Dia baru sadar bahaya mengancam ketika tembok pembatas pantai ambruk tepat di belakang lapaknya. Disusul gemuruh ombak tsunami kedua yang menggulung tubuhnya bersama Muhammad Fadel, anak pertamanya.

Gelombang tinggi itu lantas menyeretnya hingga beberapa meter dari tempatnya berdagang. Sebelum tersangkut di sebuah tembok bangunan. Tembok bangunan yang sempat menahan tubuhnya tersebut akhirnya ikut ambrol. Tidak kuat menahan gelombang dan menimpa kedua kakinya. "Saya tidak bisa bergerak sama sekali," ujarnya sambil mengeluh kesakitan.

Air yang mengalir deras juga membawa atap asbes menutupi tubuhnya. Sehingga banyak warga yang tidak mengetahui dirinya. "Saya sudah minta tolong berkali-kali, tapi tidak ada yang bantu," ungkapnya.

Dwi pun hanya bisa pasrah sebelum warga menolongnya empat jam kemudian. Akibat kejadian itu, kedua kaki Dwi patah. Meski terus meraung kesakitan, Dwi bersyukur semua keluarganya selamat. Termasuk Fadel, sang putra yang sebelumnya sempat hilang hingga pagi. Suaminya sudah sempat mencarinya sejak malam setelah tsunami.

Kekhawatiran Dwi bersama sang suami itu akhirnya sirna ketika petugas memberitahukan bahwa Fadel selamat. Dan ternyata sudah dirawat di RS yang sama sejak malam harinya. "Ternyata dirawat di sebelah pojok," ujarnya.

Yang dialami Rahmi, perempuan pedagang lainnya di Pantai Talise, memang tidak separah Dwi. Tapi, tetap saja, saat ditemui Jawa Pos tadi malam, dia masih terlihat sangat trauma. Terutama saat mengenang tsunami setinggi 2 meter itu. "Pokoknya ngeri. Tidak bisa membayangkan lagi," ungkapnya.

Rahmi juga sempat tersapu ombak beberapa meter. Namun, dia tetap sadar dan segera lari menjauh. Saat dirawat di RS Bhayangkara tadi malam, mata kiri Rahmi terlihat lebam. Dalam perawatan itu dia hanya duduk. Tanpa matras. Sendirian.

Ya, di Palu Rahmi memang hanya berniat berdagang di Festival Palunomoni. Dia sendiri berasal dari Kabupaten Sigi. Hari itu dia khusus berjualan di Palu. "Mau saya cari rezeki lebih saat festival," katanya.

Hingga kemarin Rahmi belum bisa mengabarkan kondisinya ke keluarga di Sigi. Sebab, jaringan telepon masih sangat terbatas. Saat Jawa Pos balik dari RS Bhayangkara, raungan Dwi kembali terdengar. "Aduuh...sakit. Aduh...sakit." Entah Dwi sedang menahan sakit di kakinya atau menahan lapar di lambungnya. 

(*/c9/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up