JawaPos Radar

Rupiah Tetap Rentan Serangan Ekonomi Global Meski Suku Bunga Naik

30/09/2018, 09:39 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Rupiah Tetap Rentan Serangan Ekonomi Global Meski Suku Bunga Naik
Upaya pemerintah turunkan nilai tukar Dolar AS (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) kembali meningkatkan suku bunga acuan untuk yang kelima kalinya sejak pertengahan Mei sebagai upaya untuk menghentikan anjloknya nilai tukar Rupiah dan membatasi arus keluar modal.

BI meningkatkan seven-day reverse repo dari 5,50 persen menjadi 5,75 persen hanya beberapa jam setelah Federal Reserve meningkatkan suku bunga untuk ketiga kalinya pada 2018. Artinya, BI telah meningkatkan suku bunga acuan sebesar total 150 bps tahun ini.

Analis Forex Time Lukman Otunuga mengatakan, pasar negara berkembang tetap rentan menghadapi risiko eksternal seperti ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dan ekspektasi kenaikan suku bunga di bulan Desember meningkatkan risiko negatif.

Menurutnya, defisit transaksi berjalan Indonesia adalah faktor lain yang sangat membebani Rupiah, sehingga mata uang ini mungkin saja semakin melemah di masa mendatang.

“Perlu diperhatikan pula bahwa walaupun kenaikan suku bunga BI dapat memperkuat Rupiah di jangka pendek, pertumbuhan ekonomi dapat terkena dampak negatif,” ujarnya seperti diberitakan Minggu (30/9).

Lukman menjelaskan, dari aspek teknis, reaksi langsung Rupiah terhadap kenaikan suku bunga ini tidak signifikan dengan kurs di kisaran Rp 14.900-an.

“Para trader teknikal akan terus mengamati bagaimana dolar terhadap rupiah bereaksi di atas Rp 14.900. Breakdown di bawah level ini dapat membuka jalan menuju Rp 14.820,” tuturnya.

Seperti diketahui, bank sentral The Fed menyatakan optimisme mengenai ekonomi AS dan memproyeksikan bahwa pertumbuhan akan tetap stabil hingga 2019. Inflasi diperkirakan berada di sekitar 2 persen dalam dua tahun mendatang, sementara tingkat pengangguran diperkirakan turun ke 3,5 persen tahun depan.

“Secara umum, penilaian yang relatif optimis mengenai ekonomi AS dan tidak adanya kekhawatiran yang berarti mengenai ketegangan dagang mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga di bulan Desember,” ucapnya.

Walau demikian, kata Lukman, hal yang penting diperhatikan adalah dihapuskannya kata "akomodatif" dari pernyataan Fed yang dianggap sebagai sinyal dovish yang mengisyaratkan kenaikan suku bunga yang lebih lambat di tahun depan.

“Mengenai aspek teknikal, Indeks Dolar sedikit melemah dan kemudian memantul saat investor menafsirkan proyeksi ekonomi dan dot plot terbaru,” tandasnya.

(mys/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up