JawaPos Radar

Hidupkan Permainan Tradisional di Festival Bermain Anak

30/09/2018, 07:15 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Hidupkan Permainan Tradisional di Festival Bermain Anak
Anak-anak diajarkan membuat dan menggambar layang-layang di Festival Bermain Anak yang berlangsung di Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta Selatan, Sabtu (29/9). (dok.Komunitas PlayPlus Indonesia)
Share this image

JawaPos.com - Permainan tradisional adalah sebuah cerminan budaya. Sayangnya, semakin sedikit anak-anak yang memainkannya. Padahal, jika tidak dilestarikan maka permainan tradisional akan punah.

Menyadari pentingnya membangkitkan kembali permainan tradisional, Komunitas PlayPlus Indonesia berdiri. Kini, setiap tahunnya komunitas ini menggelar Festival Bermain Anak. Mengangkat tema Bermain Cerdas Generasi Emas, event tahun 2018 diselenggarakan di Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta Selatan, Sabtu (29/9).

Terdapat banyak permainan tradisional yang dapat diikuti oleh anak-anak. Di antaranya, sonda, gasing, dakon, catur Aceh, ula, sumenda, dan banyak lagi. Tak hanya itu, workshop pembuatan mainan tradisional, seperti membuat layang-layang, telepon kaleng, dan mobil bambu juga ada.

Hidupkan Permainan Tradisional di Festival Bermain Anak
Anak-anak diajak menggerakkan badan dengan bermain bakiak di Festival Bermain Anak yang diselenggarakan di Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta Selatan, Sabtu (29/9). (dok.Komunitas PlayPlus Indonesia)

"Melalui acara ini, Komunitas Playplus Indonesia berharap dapat mengenalkan kembali jenis-jenis permainan tradisional anak dan mengajarkan bagaimana cara memainkannya. Di samping itu, kami juga ingin mempromosikan nilai-nilai pendidikan dan filosofis yang terkandung dalam setiap jenis permainan tradisional kepada para orang tua, anak-anak, guru, dan masyarakat umum," ujar Sarita Dessyana selaku Ketua Pelaksana Festival Bermain Anak 2018, ketika ditemui di acara Festival Anak, Sabtu (29/9).

Salah satu yang terlibat dalam mengajarkan workshop adalah Endi Aras dari komunitas Gudang Dolanan. Sejak tahun 2005, dia memang senang sekali mengoleksi gasing berbagai bentuk dari seluruh Indonesia. Tak hanya gasing, dia juga sudah mengoleksi berbagai macam permainan tradisional yang totalnya sekitar 100 macam.

Banyaknya koleksi permainan tradisional yang dimiliki membuat rumah Endi menjadi galeri permainan anak-anak. Endi pun berharap dengan adanya Festival Bermain Anak ini mampu menumbuhkan kepedulian anak-anak Indonesia terhadap permainan tradisional.

"Kita memang tidak bisa lepas dari situasi zaman sekarang memang zaman gadget, tinggal bagaimana mengarahkan anak-anak bijaksana dalam bergadget. Seperti ini, kita ajak anak-anak untuk membuat layang-layang. Setidaknya 1 jam mereka melepaskan gadgetnya. Terlalu lama anak-anak menggunakan gadget pun dapat mengurangi respon pada anak itu sendiri," ujar Endi Aras.

Menurut Endi, permainan tradisional itu memberi manfaat yang banyak bagi anak-anak. Memberi efek senang pada anak-anak, tubuh lebih sehat karena mendorong fisiknya menjadi lebih aktif, melatih motorik halus atau kasar, mengajarkan anak juga untuk mendekatkan dengan alam sekitar.

(Inr/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up