JawaPos Radar

Dosen Udinus Bawa Macapat Mendunia

29/09/2018, 18:30 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Aplikasi berbasis android e-Macapat.
Aplikasi berbasis android bernama Elektronik Macapat Kampus Udinus (e-macapatku), bikinan sederet dosen Fakultas Ilmu Komputer Unversitas Dian Nuswantoro (Udinus) siap diseminarkan di Korsel. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Budaya dan seni Indonesia bercita rasa tinggi tak henti-hentinya dipamerkan ke mata dunia. Kali ini giliran macapat atau puisi tradisional Jawa yang terkemas sedemikian modern dan siap diajarkan kepada pemuda di Korea Selatan.

Adalah sebuah aplikasi berbasis android bernama Elektronik Macapat Kampus Udinus (e-macapatku), bikinan sederet dosen Fakultas Ilmu Komputer Unversitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang rencananya diseminarkan di depan masyarakat Korsel, Rabu (3/10) mendatang.

“Oktober nanti semoga produk yang mendekati sempurna ini akan kami bawa ke Korea Selatan. Akan diseminarkan dan ada pelatihan macapat, gamelan serta presentasi wayang. Sebagai bentuk bakti kami terhadap budaya Indonesia,” tutur Ketua penelitian e-macapatku, Yuventius Catur Pramudi, Sabtu (29/9).

Dalam acara tersebut nantinya, Catur berujar bahwa e-macapatku akan diseminarkan bersama dengan e-gamelanku dan wayang sotil yang merupakan karya dari mahasiswi Ilmu Komunikasi Udinus. Tujuannya, melestarikan budaya bangsa, serta untuk mengenalkan inovasi terbaru dari kampus.

Sementara Catur mengatakan, penelitian e-macapatku sudah dimulai sejak tahun 2017 oleh dirinya bersama empat dosen lain. Diawali dengan mencari info mengenai macapat di Kota Solo. Penelitian program e-macapatku sendiri merupakan dana hibah dari Dikti Skim Penelitian Startegi Nasional Institusi (PSNI).

Catur mengungkap, rasa kegelisahan dengan perkembangan budaya saat ini, terutama pada perkembangan macapat sebagai pengetahuan lisan. Hal itu yang menjadi tujuan utama dalam pembuatan e-macapatku.

“Pengetahuan itu dibagi menjadi dua, pengetahuan lisan dan tulisan. Pengetahuan lisan kalau di era sekarang akan terlibas oleh pengetahuan tulis yang menarik dan mudah diserap oleh generasi muda," kata Catur.

Ia menilai bahwa yang paham macapat saat ini adalah orang-orang sepuh. Dan kala saat mereka tiada nanti, pengetahuan lisan juga ikut hilang. "Sehingga dengan e-macapatku ini kami bisa menggali ilmu-ilmu yang terlisankan dan dapat ditulis kembali oleh anak-anak muda secara menarik,” ungkapnya.

Proses penelitian e-macapatku, menurut Catur, tak hanya melibatkan dosen semata, namun mahasiswa juga. Dosen berperan di bagian analisis dan desain, lalu diimplementasikan mahasiswa yang nantinya juga akan menjadi skripsi mereka.

Ia menambahkan, sejauh ini e-macapatku sudah mengembangkan dua software. Pertama yaitu website emacapatku.com yang digunakan untuk mengunggah artikel macapat dan merekam macapat. Dengan adanya website ini, harapannya bakal menjadi ruang diskusi untuk umum.

Software yang kedua merupakan aplikasi android e-macapatku. Aplikasi yang masih dalam tahap pengembangan ini nantinya bisa diunduh melalui Playstore. “Aplikasi e-macapatku terbagi dua tipe nantinya yakni gratis dan ada yang berbayar. Pendapatan dari aplikasi berbayar akan dibagi dua untuk Sobokarti (salah satu gedung kesenian di Semarang) dan pengembangan e-macapatku sendiri,” tandasnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up