JawaPos Radar

Keluarga Wartawan Reuters Minta Ampun pada Myanmar

29/09/2018, 18:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
rohingya, myanmar, wartawan,
Keluarga dari dua wartawan Reuters yang dipenjara di Myanmar meminta pengampunan. Pengacara hak asasi manusia, Amal Clooney mendesak pemimpin sipil negara itu Aung San Suu Kyi untuk mengampuni pada acara kebebasan pers di PBB (AFP)
Share this image

JawaPos.com - Keluarga dari dua wartawan Reuters yang dipenjara di Myanmar meminta pengampunan. Pengacara hak asasi manusia, Amal Clooney mendesak pemimpin sipil negara itu Aung San Suu Kyi untuk mengampuni pada acara kebebasan pers di PBB pada Jumat,(28/9) waktu setempat.

Clooney adalah anggota tim hukum yang mewakili wartawan Reuters Wa Lone, 32, dan Kyaw Soe Oo, 28. Mereka dihukum pada 3 September di bawah Undang-Undang Rahasia Resmi era kolonial dan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara.

Dia mengatakan, para istri wartawan menulis surat yang sangat tulus kepada Pemerintah Myanmar seminggu yang lalu untuk memohon maaf. Bukan karena suami mereka telah melakukan sesuatu yang salah, tetapi karena itu akan memungkinkan mereka dibebaskan dari penjara.

rohingya, myanmar, wartawan,
Operasi tersebut memaksa 700 ribu orang Rohingya lari ke Bangladesh (Gulf News)

Clooney mengatakan Presiden Myanmar Win Myint akan membuat keputusan untuk mengeluarkan grasi dengan berkonsultasi dengan Suu Kyi.

"Anda berjuang selama bertahun-tahun untuk dibebaskan dari penjara yang sama, mereka sekarang duduk dan sekarang Anda memiliki kekuatan untuk benar-benar memperbaiki ketidakadilan ini jika Anda menginginkannya," kata Clooney dalam pesannya kepada Suu Kyi.

Delegasi Myanmar ke PBB tidak segera menanggapi hal tersebut. Juru Bicara pemerintah Myanmar Zaw Htay mengatakan, pengadilan itu independen dan mengikuti proses hukum dalam kasus tersebut.

Para wartawan mengaku tidak bersalah dan telah ditahan sejak Desember. Kyaw Soe Oo memiliki seorang putri berusia tiga tahun. Bulan lalu, istri Wa Lone melahirkan anak pertama mereka.

Para wartawan melakukan penyelidikan terhadap pembunuhan 10 pria dan anak laki-laki Muslim Rohingya oleh pasukan keamanan dan umat Buddha setempat di negara bagian Rakhine di Myanmar barat selama penumpasan tentara yang dimulai pada Agustus 2017. Operasi tersebut memaksa  700 ribu orang Rohingya lari ke Bangladesh.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up