JawaPos Radar

Terancam Muncul 64.979 Kasus Karena Rendahnya Imunisasi MR di Aceh

Delapan Provinsi Belum Capai 50 Persen

29/09/2018, 15:01 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Terancam Muncul 64.979 Kasus Karena Rendahnya Imunisasi MR di Aceh
Seorang anak laki-laki disuntik vaksin MR oleh petugas kesehatan Puskesmas Kayon, Kalteng, baru-baru ini. (DENAR/KALTENG POS)
Share this image

JawaPos.com - Program imunisasi campak dan rubela (measles-rubella/MR) secara serempak bertujuan agar Indonesia memiliki kekebalan komunitas atau herd immunity. Menurut measles strategic planning (MSP), rumus perhitungan rubela sesuai standar WHO harus memiliki cakupan vaksin minimal 95 persen agar kasus dan angka kematiannya nihil.

Namun, kenyataannya, hingga kemarin (28/9) pukul 18.00, masih delapan provinsi yang belum mencapai 50 persen. Sesuai data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), delapan provinsi itu adalah Aceh dengan 7,3 persen, Sumut (47,65 persen), Sumbar (29,04 persen), Riau (29,01 persen), Bangka Belitung (46,58 persen), Kepri (44,83 persen), NTB (42,07 persen), dan Kalsel (42,23 persen).

Terancam Muncul 64.979 Kasus Karena Rendahnya Imunisasi MR di Aceh

Target cakupan 95 persen dari Kemenkes bukan target mengada-ada. Sesuai data Unicef, di Aceh jika cakupan di bawah 95 persen, akibatnya akan fatal. Jika tak ada imunisasi, akan terbuka peluang adanya 64.979 kasus dan 1.008 kematian. Jika cakupannya hanya 75 persen, diperkirakan terjadi 2.872 kasus dan 39 kematian. Selanjutnya, jika cakupan mencapai 85 persen, kematian turun menjadi 21 kemungkinan dan 1.673 kasus akan terjadi. Untuk mencapai kematian dan kasus nol, minimal harus mencapai cakupan 95 persen.

Dosen Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair dr Atoillah Isfandiari MKes mengatakan, kejadian luar biasa (KLB) MR bisa terjadi jika secara nasional cakupan imunisasinya tak mencapai 95 persen.

"Kalau secara teori epidemiologi itu penularan akan terus terjadi kalau di masyarakat di komunitas tak sampai 95 persen cakupannya. Kalau mau berlaku se-Indonesia harus 95 persen (secara nasional, Red), tidak bisa parsial per daerah," jelasnya kemarin saat dihubungi Jawa Pos.

Yang dikhawatirkan adalah ketika ada mobilitas manusia dari daerah yang cakupan imunisasinya kurang dari 95 persen ke daerah lain. "Transportasi manusia Aceh ke Jawa, misalnya, ini dapat menularkan atau memengaruhi mobilitas penyakit. Artinya, selama mobilitas manusia masih cair dan ada anak yang masih belum tervaksin, maka berisiko bagi daerah lain yang sudah bagus," tuturnya.

Ato -sapaan Atoillah Isfandiari- menegaskan bahwa campak atau measles akan berdampak langsung ke anak. Sedangkan rubela mengakibatkan kecacatan janin. "Penularannya kalau anak terkena rubela mungkin tidak apa-apa, paling hanya panas. Tapi, kalau menular ke ibu yang hamil, janin bisa terpengaruh."

Risiko campak juga perlu mendapat perhatian. Angka kematian campak rata-rata 1 persen. Jika 100 anak tertular campak, ada 1 yang meninggal. "Kan juga tinggi. Apalagi diperparah malanutrisinya tinggi," tambah Ato.

Dampak MR ini akan terlihat lima tahun mendatang jika cakupan imunisasi MR tidak maksimal. Meski demikian, setiap tahun sudah bisa dilihat kenaikannya. Hal tersebut dikatakan Ato berdasar data KLB 2017 dan cakupan imunisasi terendah terjadi pada 2012.

"Jadi, kasus Indonesia kira-kira lima tahun. Saya tidak tahu secara global," ucapnya.

Imunisasi dianggap cara yang paling murah dan mudah untuk menangkal wabah MR. Opsi lainnya ialah skrining toksoplasma, rubela, cytomegalovirus (CMV), dan herpes simplex virus (torch). Skrining itu dilakukan pada perempuan yang merencanakan kehamilan. Jadi, sebelum hamil, calon ibu diambil darahnya untuk dilihat ada tidaknya torch. Jika ada, si ibu diminta menunda kehamilan. Sayang, skrining itu setidaknya berbiaya Rp 500 ribu. "Kalau memang skrining dirasa mahal, vaksinlah yang free," ujarnya.

Sementara itu, Chief of Field Office and Partnership Specialist UNICEF Arie Rukmantara menyatakan, lembaganya mendukung upaya pemerintah untuk memastikan semua anak menjadi target imunisasi MR.

Sebab, setiap anak berhak tumbuh sehat dan mendapat peluang hidup serta berkembang dengan baik. "Kepemimpinan pemerintah daerah adalah kunci untuk menggerakkan program di perpanjangan waktu hingga 31 Oktober," tuturnya.

Communication for Development (C4D) Specialist UNICEF Indonesia Rizky Ika Syafitri menambahkan, puluhan ribu anak Indonesia terancam meninggal dunia setiap tahunnya karena rendahnya imunisasi MR. Hal itu tentunya sangat mengkhawatirkan lantaran berpengaruh terhadap tumbuhnya generasi muda.

“Kalau tidak ada imunisasi, kita mungkin akan dapat 50.000 kematian (anak) tiap tahun. Mereka paling rentan di usia 9 bulan sampai 15 tahun. Itu usia yang paling banyak terinfeksi,” ujarnya.

Pihaknya kini memfokuskan kampanye vaksin MR ke provinsi terendah cakupan imunisasinya, yakni Aceh. Sebab hingga bulan ini, baru 7,11 persen anak yang ter-cover. Sehingga, diperkirakan seribu anak akan meninggal dunia per tahunnya.

“Tanpa program imunisasi, 64.979 kasus campak akan membuat 1.008 kematian di Aceh,” sebut dia.

Untuk itu, dengan skenario terdekat, mereka mengupayakan 75 persen cakupan imunisasi agar angka kematian bisa ditekan hingga 39 anak dengan 2.872 kasus. Kemudian skenario berikutnya, jika cakupan mencapai 85 persen, angka kematian semakin menipis yaitu 21 anak dari 1.673 kasus.

“Skenario kelima, kampanye MR dengan 95 persen cakupan, zero case, zero deaths,” tandasnya.

Namun begitu, pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Dinas Kesehatan Aceh belum bisa dikonfirmasi terkait hal tersebut setelah beberapa kali dihubungi oleh JawaPos.com.

(lyn/yes/c9/agm)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up