JawaPos Radar

Kisah Korban Bencana Alam di Sulteng

Takut Gempa Susulan, Warga Palu Tidur di Jalanan

29/09/2018, 12:48 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Gempa Donggala
Marty Pratiwi bersama ibunya, Salmah Nur, salah satu korban gempa dan tsunami di Kota Palu. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Sejak Jumat (28/9) malam, Netty Sabrina terus menggenggam handphonenya. Perempuan 38 tahun itu menanti kabar sang ibu dan adiknya yang berada di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Wajah Rina, sapaan akrab Netty Sabrina, menunjukkan raut kecemasan. Sebab ia belum diketahui pasti kondisi sang ibu, Salmah Nur, 61, dan adiknya, Marty Pratiwi, 30, usai gempa bumi dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala, Sulteng.

Rina dan suaminya Teuku Yudhistira terus mencoba menghubungi ke nomor telepon ibu dan adiknya. Mereka terus memanjatkan doa untuk keselamatan keluarganya. "Sampai sekarang belum bisa berkabar. Kami masih takut. Bagaimana kabar ibu dan adikku," ucap Rina sambil terisak di rumahnya, Jalan Jermal VII, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Jumat malam.

Salmah Nur sudah berada di Palu sejak tiga minggu lalu. Dia ingin melihat kondisi anaknya yang tinggal bersama suami di sana.

Harapan sempat ada. Telepon Rina tersambung ke Palu malam tadi. Namun tidak ada yang menyahut dari balik telepon. "Yang bikin kami cemas. Mereka cuma berdua di sana. Karena suami adik saya sedang berada di Jakarta," imbuh Rina.

Pagi tadi, Rina bersama suaminya kembali mencoba peruntungan. Telepon ke ibu akhirnya diangkat. Sang ibu bercerita bagaimana kondisi gempa di Palu. "Beliau terus menangis menceritakan kondisi mereka serta kondisi para korban gempa dan tsunami di Kota Palu," ungkap Rina.

Kepada Rina, Salmah Nur bercerita harus tidur di jalan bersama korban lainnya. Mereka takut ada gempa susulan jika harus masuk ke dalam rumah. Karena kondisi hunian mereka sudah banyak yang retak.

Di jalan, mereka hanya beratapkan langit. Bantuan belum bisa masuk karena banyak akses jalan yang tertutup. Cuaca dingin dan gelap karena listrik padam harus dirasakan Salmah Nur bersama warga lainnya.

Jalanan tempat mereka tidur juga dalam kondisi banyak retakan. "Kata ibu, kondisi kota hancur. Mereka baru bisa mengontak kami yang di Medan. Suaminya di Jakarta belum bisa terhubung. Sambil nangis tadi mereka bilang minta didoakan. Terus sambungan telepon terputus" beber Rina.

Gempa yang disusul tsunami mengguncang kawasan Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) sekitar pukul 17.02 WIB. Pusat gempa berada di kedalaman 10 km pada 27 km Timur Laut Donggala.

Berdasarkan data BMKG, tsunami telah menerjang pantai Talise di Kota Palu dan pantai di Donggala. Beberapa video yang didokumentasikan masyarakat dan disebarkan di media sosial mengenai tsunami di Kota Palu dan Donggala adalah benar.

Gempa tsunami menimbulkan korban jiwa. Laporan sementara, terdapat beberapa korban yang meninggal karena tertimpa bangunan roboh. Tsunami juga menerjang beberapa permukiman dan bangunan yang ada di pantai. Jumlah korban dan dampaknya masih dalam pendataan.

(pra/JPC)

Alur Cerita Berita

Kelangkaan BBM Mulai Teratasi 29/09/2018, 12:48 WIB
Akses ke Palu Makin Mudah 29/09/2018, 12:48 WIB
Pasar Manonda Palu Kembali Bergeliat 29/09/2018, 12:48 WIB
Jokowi Kerahkan Psikolog ke Sulteng 29/09/2018, 12:48 WIB
Gempa Sulteng, 2.736 Sekolah Rusak 29/09/2018, 12:48 WIB
TNI Kirim Tiga Pesawat ke Palu 29/09/2018, 12:48 WIB
TNI Kirim 6 Ton Alkes ke Sulteng 29/09/2018, 12:48 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up