JawaPos Radar

Jurnalis Tiongkok Tulis Soal Uighur, Terancam Kekerasan Hingga Bui

29/09/2018, 13:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
uighur, muslim uighur, tiongkok,
Jurnalis Tiongkok tidak dapat secara independen melaporkan apa yang terjadi pada orang Uighur. "Tidak ada dakwaan, tidak ada persidangan, orang-orang hanya menghilang ke tempat-tempat ini selama berbulan-bulan (Getty Images)
Share this image

JawaPos.com - Tiongkok telah dituduh telah menahan hingga satu juta warga Uighur dan minoritas Muslim Tlainnya di Wilayah Otonomi Uighur,  Xinjiang dengan dalih untuk melawan terorisme dan ekstremisme agama. Dilansir Al Jazeera pada Selasa, (25/9), Tiongkok menyangkal tuduhan penahanan massal dan diskriminasi.

Tiongkok mengatakan, langkah-langkah keamanan yang ketat di Xinjiang bertujuan untuk mencegah separatisme, ekstremisme, dan terorisme.  Penasehat Ekonomi Pemerintah Tiongkok, Einar Tangen menjelaskan, pihak berwenang percaya ada unsur-unsur radikal yang telah menyusup ke dalam populasi dan meyakinkan orang-orang kalau mereka harus memiliki tanah air yang merdeka.

uighur, muslim uighur, tiongkok,
Ilustrasi wartawan mendapat represi dari polisi (AP)

Pejabat Tiongkok ingin membatasi informasi dan citra yang keluar dari wilayah tersebut dan mengontrol akses adalah pusat dari strategi mereka.

Jurnalis Uighur, Alim Seytoff melaporkan cerita dari Washington. Dia adalah Direktur Layanan Uighur Radio Free Asia yang didanai AS. Hampir tidak mungkin bagi wartawan Uighur untuk meliput di sana.

Jurnalis Tiongkok tidak dapat secara independen melaporkan apa yang terjadi pada orang Uighur. "Tidak ada dakwaan, tidak ada persidangan, orang-orang hanya menghilang ke tempat-tempat ini selama berbulan-bulan sekaligus dan bahkan lebih lama lagi," jelas jurnalis lainnya, Megha Rajagopalan, yang memiliki kisahnya sendiri untuk diceritakan.

Dia adalah salah satu dari sedikit wartawan asing yang berhasil masuk ke Xinjiang untuk melaporkan situasi di sana, tetapi beberapa minggu setelah artikelnya diterbitkan oleh Buzzfeed, dia diusir dari negara itu.

Jurnalis Tiongkok yang nekat menulis hal itu lebih buruk. Mereka bisa menghadapi ancaman, kekerasan dan dalam beberapa kasus hukuman penjara.

Presiden Xi Jinping tidak memiliki keraguan dalam memberi tahu para jurnalis Tiongkok untuk memprioritaskan kesetiaan utama media harus kepada negara, bukan cerita. Xi telah menjadi presiden selama enam tahun sekarang. Kekuatan dan pengaruhnya yang berkembang telah dibandingkan dengan Mao Zedong, yang pernah berkata, "Peran dan kekuatan surat kabar terdiri dari kemampuan mereka untuk menyajikan garis partai, kebijakan khusus, tujuan dan metode kerjanya kepada massa,” ujarnya.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up