JawaPos Radar

Kisah Muazin Uighur di Uni Emirat Arab yang Dipaksa Pulang ke Tiongkok

29/09/2018, 11:35 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
muazin, uighur, tiongkok,
Polisi berada di mana-mana untuk mengawasi tingkah laku Muslim Uighur (Al Jazeera)
Share this image

JawaPos.com - Sebuah keluarga dari suku Uighur yang berada di Uni Emirat Arab menyatakan keprihatinannya dan ketakutannya bahwa mereka akan di deportasi ke Tiongkok. Kelompok etnis yang mayoritas muslim ini tunduk dan patuh pada tindakan-tindakan represif terhadap mereka.

Perwira polisi UEA menangkap Abudujilili Supi setelah ia selesai melaksanakan sholat di masjid Abdullah bin Rawaha di Sharjah. Di masjid itu, ia bekerja sebagai seorang muazin.

Istri Supi, yang menyaksikan penangkapan itu, tidak mendapat penjelasan mengapa suaminya dibawa pergi. Namun, tiga hari kemudian ia mendapat telepon. Dalam percakapan itu, Supi memberitahu istrinya bahwa ia dikirim ke Tiongkok dan pihak berwenang belum menanggapi permintaannya untuk dikirim ke negara yang lebih aman.

muazin, uighur, tiongkok,
Muslim Uighur banyak yang lari ke luar negeri menghindari represi Tiongkok (Mashable)

Supi menghabiskan empat tahun belajar studi bahasa Arab dan Islam di Kairo sebelum pindah ke UAE, dia keluarganya mengatakan ia tinggal secara legal.

Selama di Mesir, ia telah mengunjungi Tiongkok dua kali berlibur tanpa ada masalah. Namun pada awal tahun ini, berbagai laporan mulai memaparkan detail penindasan Beijing yang meningkat terhadap orang-orang Uighur dan kelompok-kelompok Muslim lainnya.

Para pejabat Tiongkok telah melarang ritual-ritual Islam, seperti puasa selama Ramadhan, mereka memaksa warga Uighur untuk meninggalkan praktik-praktik Islam di wilayah Xinjiang di negara itu.

"Segalanya baik, dia menikmati pekerjaannya," kata saudaranya, Abdul Mijit, kepada Al Jazeera. Mijit mengatakan, saudaranya tidak pernah melanggar hukum.

"Kami tidak memiliki masalah dengan pemerintah mana pun, kami memahami hukum di setiap negara, dan kami mematuhi hukum di mana kami tinggal," tambahnya.

Sebaliknya, ia yakin penangkapan saudaranya adalah bagian dari langkah Tiongkok untuk memperluas penganiayaan terhadap komunitas itu, kepada orang Uighur yang tinggal di luar negeri.

Pada Juli, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengunjungi UAE, menjadi pemimpin Tiongkok pertama yang melakukannya dalam 29 tahun. Selama kunjungan tersebut, UAE dan Tiongkok mengumumkan kemitraan strategis yang komprehensif untuk meningkatkan kerja sama di semua bidang ke tingkat yang lebih tinggi.

Kaum minoritas yang berbahasa Turki dan sebagian besar Muslim itu telah lama mengeluhkan penganiayaan oleh Tiongkok, tetapi situasi telah meningkat secara dramatis. Ada laporan bahwa lebih dari satu juta warga Uighur ditahan di tempat yang oleh para aktivis disebut kamp konsentrasi di Xinjiang.

Namun, Tiongkok menolak deskripsi itu, tetapi kelompok-kelompok hak asasi manusia dan PBB telah meminta Beijing untuk membebaskan para tahanan. Pemerintah berdalih dengan mengatakan memerangi terorisme.

"Di hampir semua kasus orang Uighur yang kembali ke rumah, mereka dikirim ke kamp-kamp interniran massal," kata Rian Thum, seorang sejarawan Islam di Tiongkok. Dia menambahkan pihak berwenang menggunakan sejumlah cara untuk menekan orang-orang Uighur yang tinggal di luar negeri, termasuk merekrut informan dan penggunaan anggota keluarga yang masih di Xinjiang untuk menekan orang-orang buangan agar kembali ke rumah.

Warga Uighur percaya bahwa Tiongkok mengerahkan kekuatan diplomatiknya yang cukup besar untuk menekan anggota komunitas yang tinggal di luar negeri.

(iml/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up