JawaPos Radar

Tasya Kamila: Perpustakaan Tempat Nongkrong Favorit Sejak Kuliah

29/09/2018, 07:22 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tasya Kamila,
Tasya Kamila (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Membaca bisa membuka wawasan dan menambah pengetahuan. Hal itu diungkapkan penyanyi Tasya Kamila yang dikenal sebagai public figure yang peduli akan pendidikannya. Lulusan S1 dari Universitas Indonesia (UI) dan S2 dari Amerika Serikat itu mengungkapkan kegemarannya nongkrong di perpustakaan untuk mencari ide kreatif.

Tak heran, di rumahnya pun Tasya memiliki perpustakaan mini. Pengantin baru istri dari Randy Bachtiar itu menjelaskan kegemarannya membaca selalu didukung dengan fasilitas perpustakaan di sekolahnya sejak kecil. Beruntungnya, sarana perpustakaan di kampusnya mendukungnya untuk lebih menelurkan ide kreatif.

"Saya sih termasuk yang beruntung dari TK sampai S2 selalu mengenyam pendidikan dengan fasilitas perpustakaan yang memadai. Biasanya saat di perpustakaan selalu mengerjakan tugas sama teman-teman. Tahu kan perpustakaan UI di Depok itu keren banget. Begitu juga di Amerika. Maka perpustakaan tempat nongkrong favorit, number one favourite place," ungkapnya saat menjadi narasumber dalam Festival Lapak PerpuSeru yang digelar oleh Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) di Kota Kasablanka, Jumat (28/9).

Ada beberapa alasan yang disebutkannya mengapa perpustakaan menjadi tempat favorit. Pertama, perpustakaan yang terbaik biasanya menyediakan WiFi gratis dan super kencang. Kedua, tak harus jajan membeli secangkir kopi seperti di kafe. Ketiga, sarana berbagi ilmu dan ide bersama teman-teman yang produktif. Keempat, hening tanpa gangguan, berbeda ketika di kafe yang berisik atau di tempat lain.

"Daripada di kafe harus ngopi, makan, belum duduk lama. Belum lagi ngantri. Dibanding meeting di luar perpustakaan banyak gangguan. Di rumah teman jadi banyak ngemil, gosip, ngobrol," tukas pelantun Libur Telah Tiba itu.

Tasya berharap perpustakaan di Indonesia harus lebih dibangun dan dilengkapi fasilitasnya dengan sarana ruang diskusi. Ruang diskusi yang nyaman bisa membuat pengunjung mengaktualisasikan ide dan karya.

"Enggak cuma baca tapi disediakan peralatan dan fasilitas memadai untuk browsing, internetan sehingga banyak masyarakat suka berkunjung ke perpustakaan," jelasnya.

Tasya menyukai novel dan berbagai buku ilmu pengetahuan sejak kecil. Biar tak bosan, maka buku yang dibacanya bersifat komik bergambar tentang ilmu pengetahuan yang menarik. Dia pun punya perpustakaan mini di rumah.

"Mulailah gali minat baca karena kebutuhan. Memenuhi kehausan kita atas informasi. Saya dari kecil suka dibacain dongeng sama orang tua. Bedanya baca sama menonton, lebih bagus membaca karena melatih otak berimajinasi," jelasnya.

Hal senada diungkapkan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan (Deputi II) Woro Titi Haryanti dalam kegiatan Festival Lapak PerpuSeru. Menurutnya masih dalam semangat Hari Kunjung Perpustakaan, Festival Lapak PerpuSeru menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia termasuk generasi muda bahwa perpustakaan mampu membawa perubahan bagi masyarakat. Agar dapat membangun bangsa berkemampuan literasi tinggi, perpustakaan menjadi institusi terpenting yang mempunyai peran sentral dalam membangun literasi sosial.

"Untuk itu, peran perpustakaan harus ditingkatkan sebagai wahana pembelajaran bersama untuk mengembangkan potensi masyarakat melalui kegiatan pelatihan dan keterampilan. Dalam perspektif itulah, perpustakaan menjadi institusi pelopor gerakan literasi untuk kesejahteraan," jelas Woro.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up