JawaPos Radar

Demi Para Siswa, Guru Honorer Malang Hentikan Aksi Mogok Mengajar

28/09/2018, 21:36 WIB | Editor: Dida Tenola
Demi Para Siswa, Guru Honorer Malang Hentikan Aksi Mogok Mengajar
Ratusan siswa SDN Sindurejo 3, Kecamatan Gedangan yang ditinggalkan gurunya karena aksi mogok mengajar, Kamis (27/9). (Tika Hapsari/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Setelah beberapa hari mogok, ratusan Guru Tidak Tetap (GTT) Kabupaten Malang akhirnya menghentikan aksi mereka, Jumat (28/9). Mereka memulai aktifitas mengajar kembali.

Ketua Forum Honorer Kabupaten Malang Ari Susilo menjelaskan, pertimbangan mereka menghentikan aksi mogok mengajar ini karena para murid. "Peserta didik harus tetap mendapatkan pembelajaran di kelas," jelas Ari, Jumat (28/9). 

Dia menegaskan, semua guru honorer memiliki jiwa pendidik dan ingin memberikan yang terbaik kepada para siswa. Rasa kasihan dan jiwa pendidik yang mereka miliki, tetap menjadi pertimbangan.

Meskipun sudah kembali mengajar, namun bukan berarti mereka menyerah dalam berjuang menuntut keadilan. Hanya saja sekarang para GTT berjuang melalui perwakilan yang dipercayai. 

Tuntutan mereka yang melatarbelakangi aksi ini adalah, penghapusan aturan tentang perekrutan CPNS. Tujuannya, agar para GTT alias honorer  bisa terakomodir dalam CPNS. 

Ditambahkan Ari, aksi mogok bakal kembali dilakukan ketika seluruh honorer se-Indonesia sepakat untuk tidak menjalankan aktivitas kerja. "Kalau se Indonesia mogok, kami juga ikut," tegas dia.

Aksi mogok guru honorer itu juga disayangkan oleh Front Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP). Tindakan para guru tidak tetap (GTT), pegawai tidak tetap (PTT) dan honorer tersebut berdampak kerugian terhadap peserta didik. 

Pemerhati pendidikan dari FMPP, Asep Suriaman, menjelaskan, tindakan mogok itu membuat kecewa wali murid dan memunculkan antipati kepada honorer. Selain itu aksi mogok juga melanggar kode etik sebagai guru karena meninggalkan kewajibannya."Jika mogok mengajar dilakukan berhari-hari dengan meninggalkan proses belajar mengajar, hal ini jelas melanggar kode etik. Karena guru sudah meninggalkan kewajibannya, serta murid dan orangtua yang dikorbankan," tegasnya kepada JawaPos.com.

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up