JawaPos Radar

Jokowi: Tugas KPH Itu Bukan Banyak Administratif

28/09/2018, 19:15 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Presiden Joko Widodo
KUNKER: Presiden Joko Widodo saat di Hutan Mangunan Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Jumat (28/9). (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan agar Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan lebih banyak membimbing rakyat di lapangan. Bukan ke tugas administratif yang banyak dan membuat teks.

"KPH bukan tugas administratif yang banyak, tidak hanya pintar merencanakan dan pintar membuat teks-teks. Tapi kalau sudah masuk ke implementasi Kita sering gagal di situ," kata Jokowi dalam acara Festival KPH Tingkat Nasional dan Pameran Usaha Kehutanan, Jumat (28/9) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).

Pasar sektor industri kehutanan, dirasa sangat luas. Namun, Indonesia mempunyai lahan dan tenaga untuk menanam. "Tapi kok nggak ada yang menanam, tugas KPH itu untuk membimbing," katanya.

Ketika rakyat sudah dibimbing dan berjalan menanam akan semakin mudah dalam melanjutkan program. Semisal mengajak menanam pohon Sengon, baik di pekarangan, kebun, maupun di lahannya. "Paling sulit itu mengawali agar rakyat mau menanam. Tapi ini tidak digerakkan agar mau memanfaatkan hutan. Lahan yang dimiliki itu untuk kesejahteraan keluarganya," ucapnya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakkar dalam sambutannya menjabarkan kinerja yang selama ini dilakukan oleh KPH. Berupa penyerapan sekitar 39 juta kesempatan tenaga kerja di sektor kehutanan.

Jumlah itu pun di luar tenaga harian lepas. Pada 2017, Presiden menugaskan seluruh menteri untuk meneliti kesempatan kerja. Pihaknya pun telah melakukan, seperti pada penyerapan tenaga kerja dari pola padat kerja. Hingga rehabilitasi lahan dengan luas lahan 24 ribu per hektare, kebun bibit, persemaian, dan bangunan konservasi tanah. "Semuanya itu menyerap tenaga kerja 151.400 dalam setahun," katanya.

Kemudian 2019, Presiden menugaskan rehabilitasi lahan dengan luasan 10 kali lipat dibanding rata-rata setahun selama ini. Untuk menyelamatkan lingkungan, lahan. "Dan ini juga akan menyerap tenaga kerja yang besar," katanya.

Selain itu, rakyat juga melakukan tebang pohon kayu pada lahan sendiri dengan kisaran 102 ribu hektare. Ini mampu menyerap tenaga kerja 510.000 orang dengan volume 9,5 juta meter kubik, hususnya hutan rakyat di Pulau Jawa.

Ekowisata, lanjutnya, juga memberikan dampak berarti. Di awal 2015, Presiden menegaskan untuk mengikuti dan mendukung ekowisata di daerah. Meliputi kategori pemandangan, aksesibilitas yang baik dan mudah diakses maka akan berkembang dengan pesat.

"Kita memiliki 54 taman nasional dan 510 kawasan suaka alam dan wisata alam. 15 taman nasional telah hadir sebagai kawasan wisata, seperti Gunung Bromo Tengger Semeru, Gede Pangrango, Ujung Kulon, Komodo. Dalam Penyerapan tenaga kerja tak kurang dari 100 ribu orang" kata dia.

Ada pula pemanfaatan tanaman dan satwa di 10 balai besar dengan penyerapan 19.141 orang tenaga kerja. Lalu ada tata kelola lanskap tanaman gambut, konstruksi kanal sumur bor, tenaga pemadaman, dengan tenaga tidak kurang dari 401 ribu orang.

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up