JawaPos Radar

Dua Kabupaten di Sulsel Pesimististis Capai Target Pemberian Vaksin MR

28/09/2018, 16:06 WIB | Editor: Dida Tenola
Dua Kabupaten di Sulsel Pesimististis Capai Target Pemberian Vaksin MR
Pemberian vaksi MR di Makassar beberapa waktu lalu. (Sahrul Ramadan/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memberikan perpanjangan waktu imunisasi Measles Rubella (MR) hingga 31 Oktober mendatang. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulsel pesimistis target tersebut bisa terpenuhi.

Dinkes Sulsel sendiri menargetkan 2.333.448 orang untuk divaksin MR. Dengan waktu yang terbatas, hanya satu bulan ke depan, tim vaksinator lapangan tidak yakin akan menuntaskan proses pemberian.

"Tidak bisa tercapai target sepertinya karena kendala kami di lapangan itu sangat besar dan berbenturan dengan orang tua anak serta masyarakat lain," terang Koordinator Pelaksana Imunisasi Puskesmas Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulsel, Najamuddin saat dikonfirmasi JawaPos.com, Jumat (28/9).

Dua Kabupaten di Sulsel Pesimististis Capai Target Pemberian Vaksin MR
Infografis delapan daerah terendah dengan cakupan imunisasi MR fase II. (JawaPos,com)

Hingga Oktober nanti, 21 ribu lebih anak ditargetkan wajib imunisasi MR. Namun, memasuki penghujung September ini, capaian pemberian vaksin di Gowa baru mencapai 4 ribu. "Apalagi masih ada berapa sekolah yang minta jadwalnya diundur. Tapi sampai sekarang kami belum bisa lanjutkan karena belum ada informasi dari pihak sekolah apakah orang tua mau atau tidak," tambahnya.

Najamuddin mengungkapkan, masih banyak masyarakat yang takut dengan pemberian vaksin MR. "Jadi itu kendala kita yang paling utama sekali di lapangan. Orang tuanya anak-anak biasa takut sekali karena dia pikir anaknya nanti akan sakit. Mereka pikir seperti itu yang beredar di media sosial Facebook yang bilang kalau gara-gara suntik MR terus meninggal. Itu kendala yang paling sering kita dapati," ungkapnya.

Bersama 49 orang tim vaksinator lainnya, Najamuddin berusaha mengikis penilaian masyarakat setempat terkait vaksin MR. Pihaknya bersama kecamatan terus mendampingi dan menyosialisasikan manfaat vaksin. 

Secara merata masyarakat diberikan pemahaman bahwa ketakutan dan kekhawatiran mereka selama ini adalah hoax. "Jadi itu yang sering kami sampaikan sama masyarakat bahwa itu semua yang di Facebook hoaks. Itu informasi bohong," tegas Najamuddin.

Namun sosialisasi itu juga tidak serta merta bisa membuka kesadaran masyarakat. Dalam praktiknya, alih-alih ketakutan hilang, justru ketakutan dan kekhawatiran masyarakat semakin menjadi-jadi. "Kami sampaikan (sosialisasi vaksin MR), tapi tetap saja masyarakat masih kurang percaya," ucapnya.

Kondisi serupa juga dialami tim vaksinator di Puskesmas Bontonyeleng, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Koordinator pelaksana imunisasi Israni mengungkapkan, dirinya bersama tim kerap melakukan sosialisasi. "Tetapi masih banyak orang tua yang menolak karena untuk membangun kembali kepercayaan mereka sangat susah," aku Israni. 

Banyak orang tua yang masih percaya terhadap isu kematian akibat vaksin MR. Ada pula yang masih tetap mempercayai vaksin MR mengandung babi. Mereka masih menunggu label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Terkait tambahan waktu hingga Oktober mendatang, dia mengaku akan berupaya semaksimal mungkin agar target pemerintah bisa tercapai. "Saya akan cek sampai berapa sekarang karena berkas catatan baru saya masukkan tambahan data. Tapi kami di sini pasti akan maksimalkan pemberian vaksin sampai akhir," pungkasnya. 

(ce1/rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up