JawaPos Radar

Sambangi Ponpes Nurul Jadid, Kiai Ma'ruf Bahas Hoax di Medsos

28/09/2018, 15:31 WIB | Editor: Kuswandi
Maruf Amin
Cawapres KH.Maruf Amin saat berbincang dengan pimpinan Ponps Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo Jumat (28/9) (Sabik/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, Ma'ruf Amin melanjutkan safari politiknya di Jawa Timur. Kali ini dia menyambangi pondok pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jumat (28/9).

Pantauan JawaPos.com di lokasi, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu tiba pukul 14:20 WIB. Setibanya di pondok pesantren Nurul Jadid, Ma'ruf disambut langsung oleh pimpinan pondok pesantren, Mohamad Zuhri Zaini, bersama puluhan santrinya.

Mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu disambut begitu hangat di pondok pesantren Nurul Jadid. Puluhan santri yang telah menunggu kedatangannya, langsung berebut ingin mencium tangan Ma'ruf.

Ma'ruf mengatakan kedatangannya dalam rangka ajang silaturahmi dengan sesama ulama. Hal ini disebutnya membawa kegembiraan baginya.

"Silaturahim itu menggembirakan. Ketika berjumpa para kiai, tokoh masyarakat, berkumpul dengan para santri itu terasa menyenangkan. Jadi tak terasa lelahnya," ujar Ma'ruf.

Dalam pertemuan ini, Ma'ruf bersama pengurus pondok pesantren Nurul Jadid pun turut bernostalgia tentang para sesepuh NU di Jawa Timur. Seperti Kiai Imron, Kiai Wafi, Kiai Mun'im, yang dulu aktif di NU selama masa kepemimpinan Almarhum Idham Chalid.

Selain itu, cawapres Joko Widodo (Jokowi) itu juga menyarankan agar pesantren lebih meningkatkan potensi santri. Terutama dalam bidang musyawarah mencari solusi dari aspek fiqih atas persolan kekinian (berbahtsul masail).

"Pesantren perlu melatih santri agar mampu menjawab persoalan kekinian yang dihadapi umat," imbuhnya.

Di sisi lain, Ma'ruf menilai bangsa Indonesia sekarang tengah dihantui oleh beberapa konflik masyarakat. Maraknya hoax, fitnah serta ujaran kebencian yang memanfaatkan teknologi informasi, atau sosial media menjadi salah satu pemicu konflik itu terjadi.

"Kalau tidak ditanggulangi bersama, bisa seperti Syiria nanti. Karenanya, sekarang perlu kita sampaikan ke umat, bahwa yang dibutuhkan di Indonesia bukan hanya Islam kaffah. Tetapi Islam kaffah ma'al mitsaq," lanjut Ma'ruf.

"Kita perlu pengamalan nilai Islam, yang dibingkai dalam kesepakatan berbangsa. Mitsaqnya di Indonesia itu ya Pancasila dan UUD 1945. Kalau di Saudi dan negara muslim lain kan ada mamlakah, kerajaan. Kalau di Indonesia ya Republik," sambungnya.

(sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up