JawaPos Radar

Zimbabwe Masih Waspada Kolera

28/09/2018, 18:10 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
zimbabwe, kolera, wabah kolera,
Kekurangan air bersih membuat wabah kolera mudah menyebar di Zimbabwe (Al Jazeera)
Share this image

JawaPos.com - Zimbabwe tetap dalam keadaan waspada sejak jumlah korban tewas karena kolera meningkat menjadi 45 orang dalam tiga minggu terakhir. Dilansir Al Jazeera pada Jumat, (28/9), ribuan orang di Ibu Kota Harare telah terinfeksi oleh penyakit yang terbawa air tersebut. Dalam upaya untuk mengendalikan penyakit menular ini, polisi berusaha membersihkan jalan-jalan di Harare yang menjual buah dan sayuran segar. Tetapi orang-orang yang berani menentang perintah meskipun menghadapi kemarahan polisi.

Sekai Tawenga, 43 tahun, seorang pedagang yang menjual kubis, kentang, dan pisang, duduk tepat di seberang gerbang Glenview PolyClinic di lingkungan yang telah menjadi pusat wabah.

Klinik ini adalah situs perawatan kolera yang dibentuk oleh WHO dan otoritas lokal. Tawenga adalah salah satu dari beberapa vendor yang tetap tinggal dan terus menjual buah dan sayur meskipun ada pembatasan kesehatan masyarakat terhadap penjual makanan segar.

Dia mengatakan, kebutuhan untuk memberi makan keluarganya tidak akan memindahkan dia. Risiko kelaparan lebih besar daripada dilecehkan oleh polisi. "Saya di sini, tapi aku tidak ke mana-mana. Masalah saya lebih besar daripada penyakit ini dan bahkan jika polisi datang untuk menyingkirkan, saya akan kembali karena saya harus bertahan hidup. Tidak ada yang tahu kesulitan yang saya hadapi, "kata Tawenga.

Memerangi krisis likuiditas yang menyebabkan kekurangan uang tunai dan bahan bakar. Juga kenaikan harga bahan pokok yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang Zimbabwe yang terpaksa melakukan perdagangan jalanan.

Penyelesaian wabah itu adalah prioritas utama pemerintah. "Prioroitas utama dari pekerjaan kami saat ini adalah membasmi wabah kolera sehingga kami harus melakukan apa yang diperlukan. Termasuk menertibkan pedagang juga," kata Chideme.

Kenaikan harga barang-barang pokok, ditambah dengan kelangkaan bahan bakar terus-menerus, telah membangkitkan kembali kekhawatiran kehancuran ekonomi dari hiperinflasi yang terjadi pada tahun 2008.

Kematian lebih dari 4.000 orang akibat kolera adalah salah satu faktor kunci yang mendorong Mugabe untuk menerima perjanjian untuk membentuk pemerintahan persatuan nasional dengan beberapa partai oposisi.

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up