JawaPos Radar

Buya Irfianda: Kami Siap Menjaga Marwah Pemilu Damai di Ranah Minang

28/09/2018, 14:35 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Buya Irfianda: Kami Siap Menjaga Marwah Pemilu Damai di Ranah Minang
Tokoh agama Sumbar, Buya Irfianda Abidin dan akedemisi Unand Dr Aidinil Zetra memberikan pandangan soal pentingnya damai Fokus Group Discussion (FGD) bertema "Pemilu 2019 Damai Tanpa Ujaran Kebencian" di Kota Padang, Jumat (28/9). (Riki Chandra/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) diminta bersikap cerdas terhadap hiruk-pikuk jelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Dua pasangan calon (paslon) Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bakal berkompetisi merebut kursi RI 1.

Tokoh agama Sumbar Buya Irfianda Abidin mengatakan, masyarakat Sumbar cukup cerdas menyikapi perbedaan politik. Bahkan, nyaris tidak terjadi konflik soal perbedaan politik di Ranah Minang. Hal ini terbukti sejak sekian kalinya pemilihan langsung di gelar di Indonesia.

"Sejak dulu, setiap konstestasi pemilu, Ranah Minang selalu aman, tertib, dan lancar. Kondisi itu terjadi karena kontrol umat yang sesuai filosofi Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) selalu digenggam penduduk Sumbar," kata Irfianda Abidin dalam gelaran Fokus Group Discussion (FGD) bertema Pemilu 2019 Damai Tanpa Ujaran Kebencian di Kota Padang, Jumat (28/9).

Dalam diskusi yang dihadiri wartawan dan pers mahasiswa itu, Irfianda menyerukan terwujudnya Pemilu damai dan aman di 2019 mendatang. Jangan sampai perbedaan pilihan politik membuat umat terpecah belah dan terkotak-kotak.

Ketua Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) Sumbar itu tak menampik, perbedaan politik tentu saja akan melahirkan riak-riak demokrasi. Namun hal itu akan dianggap wajar di negara demokrasi. Dengan catatan tidak menjurus ke kampanye hitam alias fitnah yang berujung anarkis.

"Yang membuat tak nyaman itu ya soal kampanye hitam, money politik. Sebetulnya, pola-pola itu yang menciderai hati warga Sumbar. Tapi, kami siap menjaga marwah pemilu damai di Ranah Minang," terangnya.

Menjaga stabilitas politik, terang Irrfianda, tak terlepas dari niat. Dia menghimbau agar penduduk Sumbar memasang niat yang lurus dalam mensukseskan pemilu 2019 tanpa konflik. Namun, untuk menetralkan suasana perbedaan politik, Irfianda juga meminta peran penuh penyelenggara dan pengawasan pemilu.

Irfianda meyakini, peran aktif penyelenggara dan pengawas pemilu akan meredam kegaduhan yang mencuat ke hadapan publik. Penyelenggara pemilu harus berlaku baik dan adil. Profesional dengan menjalankan tugas masing masing.

"Kemarin saya dengar Sumbar menjadi daerah dengan kerawanan tinggi. Saya heran, dari mana tolak ukurnya. Masyarakat Sumbar sangat santun, dan tidak mau terpecah belah," sebutnya.

Pemateri lainnya, Aidinil Zetra mengatakan, damai adalah sikap mendasar dari demokrasi. Tidak ada kekerasan dan perpecahan dalam berdemokrasi.

"Damai sangat penting dalam pelaksanaan pemilu. Demokrasi itu memberikan ruang bebas untuk menentukan pilihan tanpa paksaan," terang dosen FISIP Universitas Andalas (Unand) itu.

Beredarnya hoaks, cacian dari aku-akun palsu di media sosial (medsos), kemudian dikirimkan berantai melalui grup-grup medsos, jelas merusak tatanan demokrasi damai yang telah terawat lama di negara ini.

"Pemilu damai akan melahirkan tokoh politik berkualitas," bebernya.

(rcc/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up