JawaPos Radar

Gus Dur, Gusdurian, dan Pilpres

Oleh Kacung Marijan*

28/09/2018, 13:27 WIB | Editor: Ilham Safutra
Gus Dur, Gusdurian, dan Pilpres
Yenny Wahid (Miftahulhayat/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Ketika Jokowi, dilanjutkan dengan Sandiaga Uno dan Prabowo, serta yang terakhir Kiai Ma'ruf Amin mengunjungi rumah keluarga Gus Dur di Ciganjur, banyak orang bertanya: Keluarga Gus Dur memberikan dukungan kepada siapa?

Lebih khusus lagi, pertanyaan itu ditujukan kepada Yenny Wahid, putri Gus Dur yang selama ini dianggap dekat dengan aktivitas politik.

Gus Dur, Gusdurian, dan Pilpres
Yenny Wahid dan ibunya Sinta Nuriyah Wahid saat menerima kunjungan cawapres Ma'ruf Amin ke rumahnya. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Tentang apakah Yenny bersedia menjadi bagian tim sukses dari salah satu pasang calon presiden-wakil presiden tersebut.

Secara formal, Yenny memang tidak memiliki afiliasi politik dengan partai tertentu. Namun, sebagai orang yang pernah terjun di kancah politik, di PKB, dan putri seorang tokoh besar yang pernah menjadi presiden, langkah-langkah Yenny dalam perhelatan besar pemilu serentak itu tentu tidak bisa diabaikan. Lebih-lebih, sampai sekarang Yenny sering diidentikkan sebagai pimpinan sayap politik Gusdurian -orang-orang yang menjadikan Gus Dur sebagai rujukan dalam pandangan keagamaan, sosial, dan politik.

Ketika dikaitkan dengan Gusdurian, sikap Yenny dan keluarga Gus Dur tentu bukan sikap biasa. Melainkan sikap yang "sesuatu". Di belakang sikap itu, bisa terkait dengan rentetan sikap sebuah kelompok banyak orang yang dekat dengan pemikiran Gus Dur. Ketika politik itu dikaitkan dengan elektoral, sikap Yenny dengan demikian juga terkait dengan mobilisasi dukungan suara dari kelompok besar itu.

Memang acap kali orang terlalu menyederhanakan pandangan bahwa Gusdurian itu selalu terkait dengan gerakan politik. Hal tersebut tidak terlepas dari gerakan yang pernah dilakukan oleh Gus Dur semasa hidup.

Gus Dur merupakan seorang pemikir sekaligus aktivis organisasi kemasyarakatan. Sebagai intelektual yang "tidak di menara gading", Gus Dur juga pernah terlibat gerakan politik praktis. Hingga akhirnya menjadi presiden.

Pengikut Gus Dur, yang kemudian dikenal sebagai Gusdurian itu, bisa masuk ke dua spektrum tersebut dan bisa juga gabungan keduanya. Spektrum itu juga terefleksi pada empat putri Gus Dur sendiri.

Putri pertama Gus Dur, Alissa Wahid, lebih tertarik pada aktivitas kultural dan terlibat dalam pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid, selama ini lebih mencerminkan wajah politik Gus Dur. Dua putri lainnya cenderung pada wajah seperti putri pertama.

Dalam situasi semacam itu, lalu seberapa besar kepentingan dukungan keluarga Gus Dur, dari spektrum mana pun, terhadap persaingan politik di pemilu serentak tahun depan?

Istri Gus Dur, Ibu Sinta Nuriyah Wahid, dalam berbagai kesempatan berkali-kali menyatakan posisi netral keluarga Gus Dur. Namun, tak demikian halnya dengan putri kedua beliau, Yenny.

Pada pemilu 2019, tidak akan netral lagi. Seperti diumumkan Rabu lalu (26/9), setelah berkonsultasi dengan para kiai sahabat Gus Dur yang terlebih dahulu melakukan lelaku spiritual, Yenny akan memberikan dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Mengapa Yenny sekarang melakukan pemihakan? Apakah langkah itu akan diikuti Gusdurian yang tidak hanya bakal memberikan dukungan elektoral kepada Jokowi-Ma'ruf Amin? Tapi juga sebagai gerakan untuk memberikan dukungan secara lebih masif?

Narasi mengapa Yenny akhirnya memberi dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf Amin memang bisa panjang. Namun, simbol lukisan Jokowi yang sedang menulis "NKRI" yang belum selesai saat jumpa pers Rabu lalu memberikan makna tersendiri.

Jokowi dipandang sebagai seorang pemimpin yang sedang berusaha keras membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagaimana juga yang dibayangkan dan pernah dilakukan oleh Gus Dur. Memberikan kesempatan kepada Jokowi untuk melanjutkan pekerjaannya dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting.

Memang sempat muncul analisis bahwa Yenny Wahid akan cenderung memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo-Sandi. Selain karena faktor historis sang suami yang pernah menjadi anggota DPR dari Gerindra dan pernah dekatnya Gus Dur dengan Prabowo, juga karena "kekecewaan" Yenny atas "digagalkannya" Mahfud MD sebagai capres Jokowi.

Selain itu, Yenny dianggap akan cenderung merapat ke kubu Prabowo karena di dalam kubu Jokowi terdapat Cak Imin (Muhaimin Iskandar), yang yang sampai sekarang dianggap masih memiliki masalah dengan Gus Dur.

Namun, analisis semacam itu ternyata tidak tepat. Pilihan Yenny tidak didasari kepentingan kekuasaan kasatmata. Termasuk, pertimbangan kawan-lawan yang berkonotasi kekuasaan. Melainkan didasari kepentingan yang lebih besar: pasangan mana yang memiliki keterkaitan lebih besar dengan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Gus Dur.

Pertimbangan semacam itu pula yang menjadikan keputusan Yenny tidak hanya penting untuk Gusdurian sayap politik, tapi juga Gusdurian sayap kultural kemasyarakatan.

Bahwa dalam Pemilu 2019 tidak hanya terkait dengan siapa yang akan terpilih sebagai presiden dan wakil presiden. Melainkan juga terkait dengan wajah kebangsaan dan kenegaraan Indonesia yang akan dipimpin sang presiden terpilih kelak.

Pilihan Yenny itu juga menjadi jawaban atas pertanyaan lain yang lebih besar: Warga NU dalam Pemilu 2019 lebih cenderung ke mana? Ya, tidak bisa dimungkiri, ada warga NU yang menjadi tim sukses Jokowi-Ma'ruf Amin, ada pula yang menjadi tim sukses Prabowo-Sandi.

Namun, belajar dari kasus Yenny Wahid, ada dugaan sebagian besar warga NU lebih cenderung memberikan dukungan kepada Jokowi-Ma'ruf Amin. Kebenarannya? Kita lihat saja. 

*) Guru besar Unair dan wakil rektor Unusa

(*)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up