JawaPos Radar

Kalsel Terus Yakinkan Masyarakat untuk Imunisasi MR Diperpanjang Waktu

28/09/2018, 13:06 WIB | Editor: Ilham Safutra
Kalsel Terus Yakinkan Masyarakat untuk Imunisasi MR Diperpanjang Waktu
Imunisasi MR di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, beberapa waktu lalu. (DOK/RADAR BANJARMASIN/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Kalimantan Selatan (Kalsel) merupakan salah satu provinsi yang terendah cakupan imunisasi Measles Rubella (MR) tahap 2. Hingga Kamis (26/9), cakupannya baru menjangkau 38,61 persen dari total anak sasaran di daerah tersebut.

Untuk itu, ketika pemerintah telah memutuskan untuk memperpanjang pelaksanaan imunisasi MR atau campak rubela itu hingga 31 Oktober 2018, pemerintah daerah (pemda) setempat optimistis bisa mencapai target yang ditetapkan.

Kadinkes Kalsel HM Muslim tak menampik polemik tersebut menjadi salah satu faktor. Polemik itu tak hanya terjadi di Kalsel. Tapi, menjalar hampir ke semua daerah yang melaksanakan vaksin asal India itu di fase II.

Kalsel Terus Yakinkan Masyarakat untuk Imunisasi MR Diperpanjang Waktu
Infografis Imunisasi MR (Rofiah Darajat/JawaPos.com)

Untuk mempercepat cakupan pemberikan vaksin Serum Institute Of India (SII) itu, Dinkes Kalsel menggandeng MUI setempat. Muslim berharap pendampingan dari MUI bisa mendorong masyarakat untuk mempersilakan anaknya untuk divaksin MR. “Memang ada kenaikan, tapi masih kecil. Ibaratnya masih merangkak,” tutur Muslim seperti dilansir dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Jumat (28/9).

Dia menyebut cakupan pemberian vaksin MR di Banua masih lamban dan merangkak. Dari target 1.120.522 anak, hingga 27 September baru mencapai 38,13 persen atau 427.527 sasaran.

Sementara kabupaten yang cakupannya terendah terdapat Kabupaten Banjar. Persentasenya hanya mencapai 23,09 persen. Hal itu dipicu oleh kultur agama di daerah itu sangat kental. Apalagi ketika berurusan dengan halal dan haram.  Sementara, Kabupaten Tabalong menjadi daerah tertinggi cakupan pemberian vaksin MR. Persentasenya mencapai 53,2 persen.

Untuk diketahui, Provinsi lain yang rendah cakupan vaksinasi MR-nya juga terjadi di Riau (28,67 persen); Sumatera Barat (28,76 persen); dan Nusa Tenggara Barat (41,6 persen).

Secara nasional cakupan vaksinasi MR saat ini masih jauh dari target. Pemerintah menetapkan target di angka 95 persen. Tetapi kondisi terkini capainnya baru 56,15 persen. Atau baru sekitar 17 juta anak dari target 31,9 juta anak.

Tidak bisa dipungkiri bahwa rendahnya capaian vaksinasi MR di sejumlah daerah, dipicu adanya pernyataan dari MUI bahwa vaksin tersebut haram. Padahal MUI telah mengeluarkan fatwa 33/2018. Isinya menegaskan bahwa penggunaan vaksin MR produk dari SII saat ini diperbolehkan atau mubah.

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saadi menjelaskan MUI menghimbau kepada masyarakat tidak perlu ragu untuk melaksanakan imunisasi MR kepada anak-anaknya. "Demi melindungi anak-anak kita dari bahaya penyakit yang tidak kita inginkan," katanya di Jakarta kemarin (27/9).

MUI juga berpesan kepada kelompok masyarakat yang belum bisa menerima program imunisasi MR untuk tetap bersikap adil dan proporsional. Tidak perlu melakukan upaya provokasi penolakan maupun menyebarkan berita bohong atau fitnah. Provokasi dan penyebaran berita bohong itu dapat menimbulkan kegaduhan dan keresahan di tengah masyarakat.

Zainut menegaskan vaksin MR diperbolehakan MUI karena tiga pertimbangan. Yakni adanya kondisi keterpaksaan serta belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci. Kemudian adanya keterangan dari ahli yang kompeten dan bisa dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi . "Kebolehan penggunaan vaksin MR produk SII tidak berlaku jika nanti ditemukan vaksi serupa yang suci," jelasnya.

(iil/jpg/yes/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up