JawaPos Radar

Liga 1 2018

Wajah Baru Bonek, Kreatif dan Antirasisme

28/09/2018, 12:52 WIB | Editor: Agustinus Edy Pramana
Persebaya Surabaya, Bonek, Liga 1 2018
Bonek berkomitmen menyuarakan perdamaian dan persatuan antarsuporter (M. Syafaruddin/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Berbicara tentang menghentikan nyanyian rasis serta chant 'dibunuh saja', Bonek memulai ikhtiar tersebut sejak Liga 2 2017 lalu. Mereka mengganti nyanyian berbau rasis dan ancaman dengan chant-chant serta koreo yang kreatif.

Setelah Persebaya Surabaya kembali berlaga di kompetisi resmi di bawah payung PSSI pada 2017 lalu, Bonek mengubah citra menjadi suporter yang kreatif. Nyanyian berbau rasis nyaris hilang. Ketika muncul, langsung mendapat hujatan dari seisi stadion.

Ketika Persebaya promosi ke Liga 1 2018, nyanyian rasis memang sempat muncul ketika laga melawan Arema. Namun setelah itu chant-chant negatif itu nyaris tak terdengar. Bagaimana cara Bonek meredam bahkan menghilangkan nyanyian berbau rasis?

Persebaya Surabaya, Bonek, Liga 1 2018
Bonek tak lagi menyanyikan chant-chant rasis dan ancaman (Galih Cokro/Jawa Pos)

Pertama, Bonek mulai menciptakan chant-chant yang berisi dukungan kepada Persebaya. Chant tersebut sangat enak dinyanyikan serta didengar, seperti Persebaya Emosi Jiwaku (Persebaya Kau Takkan Sendirian) dan Suara Bonek. Bahkan anthem Persebaya, Song For Pride juga diciptakan oleh Bonek.

Tak hanya dinyanyikan oleh Bonek, lagu-lagu yang awalnya diciptakan untuk mendukung Persebaya juga dinyanyikan oleh kelompok suporter lain dalam menyemangati timnya.

"Dalam hal ini Persebaya patut berterima kasih kepada almarhum Oka Gundul yang memelopori penciptaaan lagu-lagu itu," ujar penulis buku-buku tentang Persebaya dan sepak bola Eropa, Oryza A Wirawan.

Selain menciptakan lagu yang bertema dukungan untuk Persebaya, lanjut Oryza, Bonek juga mulai sadar bahwa kehadiran mereka di stadion harus sepenuhnya untuk mendukung Persebaya. Bukan untuk mencaci tim atau suporter lain.

"Ada kesadaran dari para pemimpin tribune untuk tidak mengomando lagu-lagu kebencian. Bahkan, ada upaya untuk melarang lagu itu dan akhirnya yang menyanyikannya di tribune justru malu sendiri," ulasnya.

Chant class yang secara rutin dilakukan masing-masing tribune juga punya pengaruh besar. Chant class ini mempermudah penularan lagu-lagu positif ke kalangan Bonek. Utamanya mereka yang menginjak remaja atau baru berusia belasan tahun.

Peran manajemen dan panpel Persebaya juga tidak bisa dikesampingkan. Persebaya sangat mendukung perubahan positif Bonek. Salah satu terobosan yang mereka lakukan adalah mengadakan Bonek Fair dan Lomba Cipta Persebaya Anthem.

"Mereka juga sangat akomodatif terhadap permintaan Bonek. Seperti menyediakan waktu untuk menyanyikan Song for Pride bersama dengan lirik lagu di giant screen," imbuhnya.

Virus positif juga ditularkan Bonek di luar stadion. Mereka mendirikan panti asuhan, membangun tempat ibadah, juga bergerak cepat untuk menggalang dana dan mengirim relawan ketika terjadi bencana alam

"Bahkan hari ini ejekan 'maling gorengan' terhadap Bonek justru dijadikan alat sindiran balik untuk kelompok suporter yang membenci mereka. Bahwa suporter yang disebut 'maling gorengan' pun ternyata bisa membangun musala di Gelora Bung Tomo dan mendirikan panti asuhan," tutupnya.

(saf/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up