JawaPos Radar

Partisipasi Rendah, Pemerintah Perpanjang Imunisasi MR Sampai Oktober

Aceh Paling Rendah

28/09/2018, 11:07 WIB | Editor: Ilham Safutra
Partisipasi Rendah, Pemerintah Perpanjang Imunisasi MR Sampai Oktober
Ilustrasi: Pemerintah memperpanjang pelaksanaan vaksinasi MR di daerah yang masih rendah partisipasinya hingga 31 Oktober 2018. (M Ridwan/Jambi Ekspres/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Target semula dari pemerintah untuk pelaksanaan vaksinasi measles-rubella (MR) alias campak atau campak jerman akan tuntas berakhir pada 30 September. Namun harapan itu belum tercapai, karena ada sejumlah daerah partipasinya sangat rendah. Atas kondisi itu pemerintah memutuskan memperpanjang imunisasi MR hingga 31 Oktober.

Mendekati pengujung September, beberapa instansi pemerintah pusat menggelar rapat di Banda Aceh pada Rabu (26/9). Rapat yang membahas nasib vaksinasi MR itu, antara lain, diikuti Pemprov Aceh, MUI Provinsi Aceh, Komisi Fatwa MUI Pusat, Kemenkes, Kemendagri, Kantor Staf Kepresidenan (KSP), serta perwakilan dari PT Biofarma.

Dalam pertemuan terungkap bahwa capaian vaksinasi MR terendah ada di Aceh. Di provinsi berjuluk Serambi Makkah itu baru ada 112.602 anak usia 9 bulan sampai 15 tahun yang sudah divaksin. Angka tersebut setara dengan 7,28 persen dari total target vaksinasi MR di Provinsi Aceh.

Partisipasi Rendah, Pemerintah Perpanjang Imunisasi MR Sampai Oktober
Infografis Imunisasi MR (Rofiah Darajat/JawaPos.com)

Secara nasional, cakupan vaksinasi MR saat ini masih jauh dari target. Pemerintah menetapkan target di angka 95 persen. Namun, capaian terkini baru 56,15 persen. Artinya, itu baru sekitar 17 juta anak dari target 31,9 juta anak.

Tidak bisa dimungkiri, rendahnya capaian vaksinasi MR di sejumlah daerah dipicu adanya pernyataan dari MUI bahwa vaksin tersebut haram. Padahal, MUI telah mengeluarkan Fatwa Nomor 33/2018. Isinya menegaskan bahwa penggunaan vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) saat ini diperbolehkan atau mubah.

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saadi menjelaskan, MUI mengimbau masyarakat tidak perlu ragu untuk melaksanakan imunisasi MR kepada anak-anaknya. "Demi melindungi anak-anak kita dari bahaya penyakit yang tidak kita inginkan," katanya di Jakarta kemarin (27/9).

Zainut menegaskan, vaksin MR diperbolehakan MUI karena tiga pertimbangan. Yakni, adanya kondisi keterpaksaan dan belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci. Kemudian, adanya keterangan dari ahli yang kompeten dan bisa dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi. "Kebolehan penggunaan vaksin MR produk SII tidak berlaku jika nanti ditemukan vaksin serupa yang suci," jelasnya.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono menuturkan, untuk daerah-daerah yang pada tahap ini belum mencapai 95 persen, pelaksanaan vaksin MR akan diperpanjang. Mulanya program itu akan selesai pada akhir September. "Sabar, kita tunggu action-nya sampai akhir Oktober, setelah pelaksanaannya diperpanjang," ujarnya.

Cakupan imunisasi minimal 95 persen di seluruh wilayah dibutuhkan untuk dapat memutus mata rantai penularan agar terbentuk herd immunity (kekebalan kelompok). Anung berharap perpanjangan kesempatan waktu pelaksanaan imunisasi MR sampai Oktober dapat dimanfaatkan dengan baik. 

(wan/lyn/c10/agm)

Alur Cerita Berita

Dua Anak di Samarinda Positif Rubela 28/09/2018, 11:07 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up