JawaPos Radar

Kanada Ingin Perbaiki Hubungan yang Kacau dengan Arab Saudi

28/09/2018, 11:25 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
arab saudi, kanada,
Kanada membuat Saudi tersinggung setelah menyerukan pembebasan para aktivis hak perempuan di Saudi (Reuters)
Share this image

JawaPos.com - Arab Saudi telah meminta permintaan maaf dari Kanada. Dilansir dari Al Jazeera pada Jumat, (28/9), sebelumnya Kanada membuat Saudi tersinggung setelah menyerukan pembebasan para aktivis hak perempuan di Saudi. Menimpali permintaan maaf tersebut, Saudi meminta Kanada berhenti memperlakukan kerajaan sebagai ‘Banana Republic’ jika ingin menyelesaikan perselisihan diplomatik yang sedang berlangsung. 

"Kami tidak ingin menjadi sepakbola politik dalam politik domestik Kanada. Cari bola lain untuk dimainkan," kata Menteri Luar Negeri Adel Al Jubeir pada Rabu malam, (26/9), di New York City. "Sangat mudah untuk memperbaikinya. Minta maaf dan katakan kamu membuat kesalahan,” ujar Al Jubair.

arab saudi, kanada,
Kementerian Luar Negeri Kanada mengatakan dalam sebuah Tweet, Sangat prihatin tentang penahanan aktivis di kerajaan termasuk Samar Badawi (BBC)

Pada bulan Agustus, Arab Saudi membekukan perdagangan baru dengan Kanada, memblokir impor gandum, mengusir Duta Besar Kanada, dan memerintahkan semua mahasiswa Saudi pulang setelah Kanada mengkritik Saudi tentang pembebasan aktivis perempuan yang ditahan Saudi.

Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland mengatakan, awal pekan ini dia berharap untuk bertemu Al Jubeir di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB untuk membahas perselisihan. Menteri Luar Negeri Saudi menyebut kritik Kanada terhadap penangkapan aktivis keterlaluan.

Kementerian Luar Negeri Kanada mengatakan dalam sebuah Tweet, "Sangat prihatin tentang penahanan aktivis di kerajaan termasuk Samar Badawi. Samar adalah saudara perempuan Raif Badawi, seorang aktivis hak asasi manusia terkemuka yang dijatuhi hukuman 10 tahun penjara pada tahun 2014 atas tuduhan menghina Islam."

Sementara itu, Jerman dan Arab Saudi sepakat awal pekan ini untuk mengakhiri perselisihan diplomatik. Masalah mereka dimulai November lalu ketika Menteri Luar Negeri Jerman pada saat itu, Sigmar Gabriel mengutuk adventurisme di Timur Tengah, komentar yang dilihat sebagai serangan terhadap kebijakan Saudi yang semakin tegas, terutama kampanye udara di Yaman. 

(ina/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up