JawaPos Radar

Tak Kantongi Izin, Aksi Kamisan di Malang Dibubarkan Sekelompok Massa

27/09/2018, 22:00 WIB | Editor: Dida Tenola
Tak Kantongi Izin, Aksi Kamisan di Malang Dibubarkan Sekelompok Massa
Polisi berusaha memediasi peserta aksi Kamisan dengan massa dari Idarah Thariqah al-Mu' tabarah (Fisca Tanjung/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com– Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional menggelar aksi Kamisan. Namun aksi tersebut dibubarkan oleh massa dari Idarah Thariqah al-Mu' tabarah.

Sejumlah massa dari Idarah Thariqah al-Mu' tabarah itu tiba-tiba mendatangi peserta Kamisan di depan Balaikota Malang, Kamis sore (27/9). Mereka meminta agar para mahasiswa itu tidak melakukan aksi. 

Semula, massa yang mengenakan pakaian serba putih tersebut menegur secara halus peserta aksi. Namun, karena teguran itu tidak diindahkan, massa kemudian memaksa mereka untuk bubar. Bahkan, ada beberapa peserta aksi yang harus ditarik agar segera pergi meninggalkan tempat.

Tak Kantongi Izin, Aksi Kamisan di Malang Dibubarkan Sekelompok Massa
Aksi Kamisan yang digelar di depan Balai Kota Malang dibubarkan oleh sekelompok massa dari Idarah Thariqah al-Mu' tabarah (Fisca Tanjung/ JawaPos.com)

Polisi yang semula menjaga aksi, juga ikut mengamankan situasi tersebut. Setelah melakukan mediasi, akhirnya peserta aksi berkenan meninggalkan lokasi.

Perwakilan massa Idarah Thariqah al-Mu' tabarah Haris Budi Kuncahyo menyampaikan, mereka membubarkan Kamisan karena aksi tidak mengantongi izin dan mengangkat tema yang tidak sesuai.

"Mereka akan mengadakan demo lanjutan soal 65. Mereka bisa kuliah bebas, makan minum di Kota Malang bebas. Tidak ada intimidasi. Kebebasan publik luar biasa, tapi kan ada aturan. Silahkan kirim surat ke kepolisian tentang apa yang akan disampaikan," terang Haris.

"Soal kemerdekaan Papua itu, ini Kamisan, tapi aksi 65 yang dipahami anak-anak itu soal kemerdekaan Papua. Setahu saya mereka juga anak-anak yang aktif di AMP (Aliansi Mahasiswa Papua, Red) yang menyuarakan berpisah dari NKRI. Itu yang kami tentang karena di Malang mereka diterima untuk belajar dengan baik bahkan ada yang dapat beasiswa," sambungnya panjang lebar.

Koordinator aksi Rico Tude mengatakan, pihaknya sebenarnya ingin menyuarakan terkait momen menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019 yang sarat akan berita hoax. Mereka juga menyuarakan terkait isu '65. "Banyak hoax diproduksi terkait isu 65. Baik oleh rezim atau oposisi. Melalui aksi Kamisan kami ingin menyuarakan itu," ujarnya. 

Menurutnya, isu tersebut telah menjadi komoditas politik. "Misalnya Jokowi pernah dituduh antek komunis. Padahal duduk persoalanya bukan di situ. 3 juta korban pembantaian 65 itu bukan hanya angka tapi mereka dipresekusi dan dibunuh dengan cara keji," lanjut Rico. 

Namun, Rico mengakui jika aksi tersebut tidak mengantongi izin. "Ini kemarin kelalaian tidak memberi surat pemberitahuan. Yang biasa mengurus itu nggak memasukkan (ke kepolisian)," kilahnya. 

Terkait tudingan bila Kamisan ditunggangi oleh Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Rico mengaku jika kawan-kawan Papua memang ikut serta, Menurutnya mahasiswa Papua itu memiliki kepentingan untuk menyampaikan hal terkait penegakan HAM.

Sementara itu Wakapolres Malang Kota Kompol Bambang Kristanto Utomo mengatakan, pihaknya memang tidak menerima izin atau pemberitahuan dari peserta Kamisan. "Kami mengambil langkah mengamankan masing-masing pihak agar tidak terjadi gesekan. Terpaksa kami pisahkan," terang Bambang.

Dia menyampaikan, aksi Kamisan  memang rutin dilakukan. Meskipun begitu, lanjut dia, tetap harus ada laporan yang masuk. "Sebelumnya (laporan) ada, tapi minggu ini tidak ada," tambahnya,

 

 

 

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up