JawaPos Radar

Ini Cara PMI Cegah Penularan HIV Lewat Transfusi Darah

28/09/2018, 06:25 WIB | Editor: Erna Martiyanti
Ini Cara PMI Cegah Penularan HIV Lewat Transfusi Darah
PMI dan Pemprov DKI Jakarta gunakan NAT untuk mencegah penularan HIV lewat transfusi darah. (Dok. PMI Jakarta)
Share this image

JawaPos.com - Donor darah yang sering digelar PMI berperan besar dalam menolong nyawa pasien yang membutuhkan. Pasalnya kebutuhan darah cukup tinggi. Di Provinsi DKI Jakarta saja setiap harinya membutuhkan 800-1.000 kantong darah.

Saat ini, kesadaran masyarakat semakin tumbuh untuk terlibat dalam aksi donor darah. Namun ternyata proses transfusi darah tak selamanya menolong. Tak jarang bahkan bisa membuat keadaan pasien semakin memburuk.

Hal yang paling rawan dalam proses transfusi darah ini adalah penularan virus HIV, Hepatitis B (HBV), dan Hepatitis C (HCV). Untuk mencegah hal ini terjadi, PMI didukung oleh Pemprov DKI Jakarta  melengkapi alat uji saring yang bernama Nucleic Acid Test (NAT) untuk darah yang sudah didonorkan.

Teknologi uji saring ini mampu mendeteksi keberadaan DNA/RNA virus dengan window period yang lebih pendek sebagai upaya untuk meningkatkan keamanan darah secara signifikan.

Kepala UTD PMI DKI Jakarta Salimar Salim mengatakan, UTD PMI Provinsi DKI Jakarta berperan aktif dalam menurunkan angka penyakit menular yang ditularkan melalui transfusi darah dengan menggunakan alat uji saring NAT.

"Pemeriksaan tersebut meliputi beberapa tahapan, yaitu screening darah yang dilakukan secara paralel dengan mesin NAT,” ujarnya saat jadi pembicara di seminar kesehatan di Kantor Walikota Jakarta Timur, Kamis (27/9).

Sementara itu, Komite Ahli Hepatitis Nasional David H Muljono menuturkan resiko penularan dari transfusi darah telah turun dalam 2 dekade terakhir. “Kita perlu apresiasi bahwa dinas kesehatan saat ini semakin memperbaiki tingkat pelayanan pada transfusi darah seperti perbaikan seleksi donor, kemajuan tes screening sensitif dan spesifik, dan kemajuan teknik inaktivasi virus,” ucapnya.

Sebetulnya PMI sejak lama ingin memaksimalkan teknologi alat NAT ini namun baru terealisasikan sekarang berkat dukungan Pemprov DKI Jakarta. NAT tersebut didatangkan langsung dari luar negeri. Sebelumnya PMI masih terkendala dalam memperbanyak alat uji saring ini dikarenakan harga alat yang mahal.

Uji saring NAT saat ini tersedia di 12 kota diantaranya DKI Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Surakarta, Bali, Makassar, Medan, Pekanbaru, Padang, Lampung dan Yogyakarta.

Berdasarkan data dari WHO, pada tahun 2017 terdapat 36,9 juta jiwa di dunia hidup dengan HIV. Namun, WHO mencatat sejak AIDS ditemukan hingga akhir 2015 terdapat 34 juta orang meninggal. Sementara di tahun 2015 tercatat sebesar 1,1 juta orang meninggal terkait dengan AIDS.

Angka kematian ini tercatat menurun dibandingkan di tahun 2010 sebesar 1,5 juta kematian. Di Indonesia, hingga saat ini HIV AIDS sudah menyebar di 407 dari 507 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.

(Inr/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up