JawaPos Radar

Didakwa Suap Eks Gubernur Aceh, Bupati Ahmadi Terancam 5 Tahun Penjara

27/09/2018, 18:48 WIB | Editor: Kuswandi
Ahmadi
Bupati Bener Meriah Ahmadi, saat akan menjalani penahanan perdana di kantor KPK Jakarta, Kamis (4/7) (Intan Piliang/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bupati Bener Meriah nonaktif Ahmadi didakwa menyuap Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf sebanyak Rp 1 miliar. Uang tersebut diberikan Ahmadi secara beberapa tahap.

"Pemberian dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya," kata jaksa Ali Fikri saat membacakan surat dakwaan di PN Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (26/9).

Menurut Jaksa, Ahmadi berniat memberikan uang ke Irwandi agar mendapatkan proyek dari anggaran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA). Selain itu, Ahmadi ingin agar pemenang proyek itu adalah rekanan kontraktor dari kabupaten yang dipimpinnya.

Mendengar pernyataan Ahmadi, Irwandi lantas menyetujuinya asalkan ada uang pelicin. Ahmadi kemudian menyetujui permintaan Irwandi.

Irwandi kemudian memerintahkan staf khususnya Hendri Yuzal dan seorang anggota timses Irwandi bernama Teuku Saiful Bahri. Sedangkan Ahmadi menyuruh stafsusnya Muyassir.

Memuluskan aksinya, Ahmadi melakukan pertemuan dengan Hendri Yuzal di salah satu kafe yang terletak di Banda Aceh. Pertemuan itu membicarakan agar rekanan kontraktor Kabupaten Bener Meriah memenangkan program atau kegiatan pembangunan yang bersumber dari DOKA tahun 2018.

Setelah urusan proyek dipastikan, realisasi commitment fee sebesar 10 persen pun ditagih. Hendri lalu menitipkan pesan pada Muyassir untuk disampaikan ke Ahmadi.

"Muyassir menghubungi terdakwa melalui WhatsApp menyampaikan pesan Irwandi Yusuf melalui Hendri Yuzal agar terdakwa menyerahkan uang sejumlah Rp 1 miliar tersebut dengan kalimat 'Siyap Pak, mau ngomong masalah zakat fitrah untuk lebaran ini, Pak', 'Satu ember dulu, Pak," ucap jaksa.

Kemudian 'uang pelicin' dilakukan secara tiga tahap. Pemberian uang dari Ahmadi selalu menggunakan peran Muyassir, sedangkan pihak penerima dari Irwandi yakni Saiful yang juga merupakan orang kepercayaan Teuku Fadhilatul Amri.

Pada tahap pertama diberikan pada 7 Juni 2018 sebesar Rp 120 juta. Kemudian, tahap kedua pada 9 Juni 2018 sebanyak Rp 430 juta. Selanjutnya tahap ketiga pada 3 Juli 2018 sebesar Rp 500 juta.

Atas perbuatannya, Ahmadi didakwa melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up