JawaPos Radar

Gas Melon di Solo Kerap Menghilang di Pasaran, Berikut Penyebabnya

27/09/2018, 19:05 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Gas Melon Langka
ILUSTRASI: Pasokan gas elpiji tiga kilogram (gas melon) di wilayah Solo Raya beberapa waktu terakhir susah ditemui dan menghilang dari pasaran. (Muhammad Akhwan/Riau Pos/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com – Pasokan gas elpiji tiga kilogram (gas melon) di wilayah Solo Raya beberapa waktu terakhir susah ditemui dan menghilang dari pasaran. Padahal pasokan dari Pertamina telah disesuaikan dengan kebutuhan warga kurang mampu dan usaha kecil dan mikro.

Usut punya usut, dari hasil monitoring yang dilakukan oleh tim gabungan dari Pemkot, Hiswana Migas, Pertamina, dan organisasi perangkat Daerah (OPD) terkait ditemukan banyak pelaku usaha besar yang turut menikmati gas bersubsidi tersebut. 

Tidak tanggung-tanggung, penggunaan gas bersubsidi untuk usaha dengan skala besar tersebut mencapai puluhan tabung per harinya. Kondisi ini disinyalir terjadi di banyak tempat usaha kuliner dengan skala besar di Kota Solo.

"Kami bersama tim terus melakukan pengawasan dan monitoring. Hasilnya banyak pengusaha yang seharusnya tidak menggunakan gas bersubsidi justru banyak menyimpan banyak gas melon," urai Kabid Pengembangan Perdagangan, Dinas Perdagangan (Disdag) Solo, Kristina kepada JawaPos.com, Kamis (27/9). 

Kristina menambahkan, maraknya pengusaha yang ikut menikmati gas bersubsidi salah satunya karena tidak adanya aturan tegas yang mengaturnya. Sehingga, mereka dengan mudah mendapatkan gas melon dalam jumlah yang cukup banyak.

"Dulu belum ada aturan yang melarang pengusaha dengan skala besar membeli gas elpiji, jadi mereka bisa mendapatkannya dari pangkalan," ucapnya. 

Kondisi ini terjadi di salah satu warung makan Soto Setabelan, Jalan Abdul Muis Solo. Dalam inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan, tim gabungan mendapati bahwa warung yang cukup terkenal di Solo itu menyimpan 23 tabung gas elpiji tiga kilogram.

"Padahal jumlah tersebut seharusnya untuk lima kepala keluarga (KK), dan ini menjadi penyebab kekurangan pasokan gas yang terjadi di Solo selama ini," tegasnya. 

Selain belum adanya aturan tegas, Kristina menambahkan, selama ini belum ada sanksi tegas yang diterapkan kepada pangkalan yang nekat menjual kepada yang tidak berhak. Sehingga, mereka tidak membatasi jumlah pembelian gas tersebut.

"Nanti kami juga akan memberikan imbauan kepada pangkalan maupun agen agar menjual gas kepada yang masuk kategori miskin atau kurang mampu," tandasnya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up