JawaPos Radar

Seram, Tema Pemilihan OSIS di Malang dari Penjara Hingga Kuburan

27/09/2018, 18:08 WIB | Editor: Erna Martiyanti
Seram, Tema Pemilihan OSIS di Malang dari Penjara Hingga Kuburan
Tema unik yang diambil dalam pemilihan OSIS di Malang mulai dari penjara hingga kuburan. (Tika Hapsari/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sesosok pocong muncul di depan salah satu ruangan yang ada di sekolah kompleks Assalam, Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Kamis (27/9). Di sampingnya, juga ada sesosok berjubah hitam dan berponco, yang biasa diasosiasikan sebagai malaikat pencabut nyawa.

Kedua sosok itu berdiri sambil mengawasi para siswa yang hilir mudik menyalurkan suara dalam pemilihan Ketua dan Wakil ketua OSIS dan OSIM. Namun dua sosok itu bukan hantu yang sesungguhnya. Melainkan dua siswa yang tengah berdandan ala makhluk supranatural.

Mereka sengaja berdandan seperti itu untuk memeriahkan Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS serta OSIM, MTs dan SMK Assalam. Tak hanya menampilkan hantu, namun juga lengkap dengan kuburannya. Di sisi lain, terdapat penjara buatan lengkap dengan jeruji dari tongkat Pramuka.

Di dalam penjara jeruji bambu itu, terdapat seseorang yang meringkuk pasrah. Di sekitarnya ada berlembar-lembar uang kertas. Masih di ruangan yang sama, di sudut lainnya, terdapat replika tengkorak, pasukan bersenjata, dan tulisan awas narkoba.

Ketua Pelaksana kegiatan pemilihan Muzeki menjelaskan, pemungutan suara ini merupakan serangkaian kegiatan yang sudah digelar sejak Rabu (19/9). Sekolah, kata dia, sengaja menampilkan tiga tema di tempat pemungutan suara (TPS) kali ini.

Tujuannya untuk menampilkan pemimpin yang jujur dan amanah vs pemimpin yang tidak amanah, remaja dan narkoba, serta rumah masa depan alias kuburan.

"Tema kami kali ini adalah pemimpin jujur, pemuda sehat, bahagia dunia dan akhirat," kata laki-laki yang biasa disapa Zaki ini, kepada JawaPos.com, Kamis (27/9).

Zaki menjelaskan, tujuan pemilihan suara dengan tema dan dekorasi unik untuk mengedukasi para siswa soal demokrasi. Selain itu, mereka juga sengaja membuat mini pameran dan role play dengan tujuan sebagai sarana pembelajaran siswa.

Dia merinci, pertama tentang kepemimpinan. Pemimpin yang baik artinya amanah dan tidak korupsi. Jika korupsi, maka konsekuensinya adalah akan dipenjara atau mati masuk neraka.

"Namun ada juga pemimpin yang jujur dan sukses. Kami juga ingin mengedukasi siswa kalau di dunia ini masih ada kok pemimpin yang jujur dan amanah," imbuh penggerak literasi di tengah perkampungan buruh migran itu.

Pengajar di sekolah itu menambahkan, ketika membahas korupsi dan pemimpin yang tidak amanah, harapannya siswa jangan sampai mengalami trauma untuk menjadi pemimpin atau wakil rakyat. Tapi, mencari cara untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan murid-murid.

"Mereka diberikan bekal bagaimana menjadi pemimpin yang amanah dan bagaimana konsekuensi ketika mereka menjadi pemimpin yang tidak amanah," tandas dia.

(tik/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up