JawaPos Radar

Sambil Menangis, Sang Bibi Ceritakan Firasat Kepergian Haringga

27/09/2018, 17:03 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Sambil Menangis, Sang Bibi Ceritakan Firasat Kepergian Haringga
Suzanna, 58, Bibi dari Haringga yang tewas dikeroyok oknum bobotoh. (Gobang Mahardika/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Belum sepekan kepergian Haringga Sirla, 23, korban kekejian oknum Bobotoh di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Jawa Barat, Minggu (23/9) lalu. Kondisi berkabung masih terasa di rumah duka di Kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Karena beberapa sanak saudara berdatangan untuk mengucapkan dukacita yang mendalam.

Terlihat Suzanna, 58, bibi dari Haringga yang menangis di pelukan ayah almarhum, Siloam. Perempuan yang baru datang dari Sukabumi, Jawa Barat itu datang ke ibu kota untuk menguatkan hati adiknya, Siloam. "Saya kakak dari ayahnya Haringga. Dari Sukabumi datang ke sini untuk melihat keadaan adik saya," kata Susi pada JawaPos.com, Kamis (27/9).

Dengan terisak tangis, Suzanna, mengungkapkan firasatnya ketika seorang anaknya mengatakan jika ada pertandingan sepak bola Persib vs Persija di Bandung Minggu (23/9). Lalu mereka secara tiba-tiba membicarakan Haringga.

"Iya, ini tumben anak saya bicarakan Ari pada saat lihat akan ada pertandingan bola di televisi pada saat itu. Anak saya bilang seperti ini, itu ada bola di tv mah, si Ari datang nggak ya?" ungkap Suzanna dengan mata berkaca-kaca.

Sementara anaknya membicarakan Ari yang sangat menyukai Persija, kata dia, terjadi peristiwa mencengangkan mata itu. Seketika ia pun berusaha mencari tahu tentang kejadian dikabarkan oleh banyak media sosial jika korbannya adalah Ari yang tak lain adalah keponakannya.

"Pas anak saya bicarakan tentang Ari, tiba-tiba ada berita yang buat saya kaget. Pas saya cari tahu informasinya, ternyata benar itu keponakan saya, si Ari," tutur wanita paruh baya itu.

Suzanna sangat menyayangkan kepergian keponakan yang merupakan penerus marga ayahnya (Tumangkeng), dan berharap kejadian tragis itu menjadi kejadian yang terakhir.

"Tidak akan ada lagi penerus Tumangkeng di keluarga ini. Itu biadab sekali, tapi kalau kita dendam ini tidak akan ada habisnya. Cukup keponakan saya jadi korban yang terakhir, jangan sampai ini dibesarkan lagi," tutup Suzanna sambil menangis tersedu.

(ce1/dik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up