JawaPos Radar

Telekomunikasi Dalam Kondisi Sulit, ATSI: Operator Punya Jurus Selamat

27/09/2018, 15:57 WIB | Editor: Fadhil Al Birra
telekomunikasi rupiah lemah, telekomunikasi kondisi sulit
Ilustrasi: antena BTS telekomunikasi. (Pixabay)
Share this image

JawaPos.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS rupanya ikut 'menggoyang' sektor telekomunikasi di Indonesia. Hal ini pun mendapat tanggapan serius dari Asosiasi penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI).

ATSI menyoroti pelemahan rupiah yang menembus angka Rp 15 ribu per dolar AS. Para anggota ATSI sudah menyiapkan sejumlah jurus untuk mengantisipasi penurunan kinerja industri seluler karena faktor makro ekonomi tersebut.

"Penurunan kinerja Telco sudah diantisipasi. Kita harapkan bahwa penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah tidak menambah buruknya angka penurunan dimana hingga semester I 2018 industri ini sudah negative growth," ungkap Wakil Ketua Umum ATSI Merza Fachys dalam keterangan tertulisnya kepada JawaPos.com, Kamis (27/9).

Dia mengakui bahwa masa sekarang merupakan 'tahun sulit' bagi industri seluler. Pasalnya, ada faktor makro ekonomi dan regulasi yang membuat pelaku usaha melakukan konsolidasi dalam strategi bisnis. "Tetapi saya percaya masing-masing operator ada jurus selamatnya dan nanti akan more than survive dari kondisi sulit ini," katanya.

Terpisah, Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini mengungkapkan, industri seluler hingga semester pertama 2018 mengalami 'negative growth'. Baik dari sisi pendapatan atau Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA). "Secara industri, negative growth terjadi di pendapatan -12,3% dan EBITDA -24,3%," paparnya.

Pengamat Pasar Modal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada menilai bahwa tantangan bagi operator kala nilai tukar rupiah melemah adalah menghadapi biaya operasional yang tinggi.

"Apalagi kalau ada peralatan yang sistemnya sewa dan bayar dengan dolar AS. Belum lagi jika ada kewajiban Bond atau lainnya dalam bentuk dolar AS. Jika simpanan dolar AS nggak cukup bisa missmatch," sebutnya.

Dia berharap dengan meredanya perang tarif sejak semester pertama 2018 akan membantu operator menghadapi sisa semester dua 2018. Adanya penyesuaian tarif bisa membantu mengurangi dampak perang tarif.

"Ditambah promosi yang menarik, orang akan mau ambil paket yang ditawarkan oleh operator karena merasa mendapat lebih. Operator harus bisa menggenjot pendapatan dari data dan internet untuk menutupi penurunan pendapatan voice dan SMS," tutupnya.

Sekadar informasi, sepanjang semester pertama 2018, operator seluler di Indonesia mengalami tekanan kerja. Selain faktor makro ekonomi dan regulasi, juga karena adanya perubahan perilaku pelanggan yang banyak menggunakan produk substitusi messenger. Hal ini menggerus pendapatan suara dan SMS.

(fab/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up