JawaPos Radar | Iklan Jitu

4 Catatan KPAI Soal Ruang Konseling SPN Dirgantara Batam

14 September 2018, 19:35:59 WIB | Editor: Budi Warsito
4 Catatan KPAI Soal Ruang Konseling SPN Dirgantara Batam
Ruang konseling SPN Durgantara Batam dinilai tak layak (Boni Bani/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus memonitor kasus kekerasan yang terjadi di SMK Penerbangan SPN Dirgantara Batam. Salah satu sorotan yang ditekankan adalah, adanya penjara di ruang konseling sekolah.

Terkait ruang konseling dan pembinaan mental yang ada di SPN Dirgantara Batam ini, Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti memberikan empat tanggapan.

Pertama kata Retno, secara fisik ruang konseling dan pembinaan mental tersebut jauh dari nyaman apalagi ramah anak. Jika membandingkan dengan ruangan konseling yang pernah didatangi Komisioner KPAI Bidang Pendidikan di beberapa sekolah, seperti di SMAN 3 Jakarta; SMAN 13 Jakarta; SMAN 1 Semarang dan SMP Dwijendra Bali yang sangat nyaman.

4 Catatan KPAI Soal Ruang Konseling SPN Dirgantara Batam
Ruang konseling SPN Durgantara Batam dinilai tak layak (Boni Bani/JawaPos.com)

"Ruangan itu (SPN Dirgantara Batam) lebih terlihat seperti gudang," kata Retno dalam keterangannya yang diterima, Jumat (14/9).

Kedua, ruangan konseling SPN Dirgantara Batam menggambarkan kekeliruan berpikir tentang makna konseling bagi peserta didik sebagaimana definisi konseling dan tujuannya.

Retno melanjutkan, berpedoman pada definisi dan tujuan konseling, proses pemberian bantuan yang dilakukan secara tatap muka. Diberikan oleh seorang ahli (disebut konselor/Guru BK)) kepada individu/siswa yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli). Tujuannya agar teratasinya masalah yang dihadapi konseli, serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimilikinya

Ia menjelaskan, secara umum, bimbingan konseling di sekolah bertujuan membantu peserta didik agar memiliki kompetensi mengembangkan potensi dirinya seoptimal mungkin. "Atau mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasainya sebaik mungkin," paparnya.

Yang ketiga, menurut Retno, konseling semestinya bukan hanya untuk nnak yang melanggar aturan. Karena yang butuh konseling tidak hanya anak-anak yang melanggar aturan saja. Setiap anak di sekolah kemungkinan memiliki masalah pribadi yang berpotensi membutuhkan konseling.

"Konseling sejatinya bukan menghukum siswa yang bermasalah, tetapi membantunya keluar dari masalahnya. Sehingga dia bisa menyadari kesalahannya, memahami konsep dirinya dan bisa mengoptimalkan potensi dirinya. Ruang konseling bukan untuk mengurung siswa yang melanggar aturan," imbuhnya.

“Jadi pertanyaan bagi KPAI, berapa lama proses konseling anak bermasalah sampai yang bersangkutan mengalami kelelahan. Sehingga sekolah harus menyediakan kasur, bahkan sampai menginap di ruang konseling. Bagaimana kalau yang melanggar sampai 5 siswa, apakah akan dimasukan juga dalam ruangan kecil tersebut dan tidur di Kasur seukuran itu?" kata Retno.

Lebih lanjut ia mengatakan, meskipun seorang siswa bersalah melanggar aturan sekolah, namun sebagai anak, hak-haknya harus tetap dipenuhi. Anak harus dilindungi oleh pihak sekolah dari berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, psikis maupun kekerasan seksual (pasal 54 UU No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak). Di kurung dalam ruangan seperti itu pastilah menimbulkan tekanan psikologis bagi anak didik.

(bbi/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up