JawaPos Radar

Impor Kedelai dari Amerika, Pengusaha Tempe Perkecil Ukuran

09/09/2018, 15:15 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Impor Kedelai dari Amerika, Pengusaha Tempe Perkecil Ukuran
IMBAS RUPIAH TURUN: Imbas pelemahan rupiah salah satunya dirasakan oleh pengusaha tempe di Kota Malang. (Fiska Tanjung/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pelemahan nilai rupiah membawa dampak yang cukup signifikan bagi pengusaha lokal di Kota Malang. Salah satunya pengusaha kripik tempe. Bahkan, mereka harus mengurangi ukuran tempe untuk menyiasatinya.

Ketua Paguyuban Sentra Kripik dan Tempe Sanan, Mohammad Arif Sofyan Hadi mengatakan, selama ini kedelai yang menjadi bahan baku tempe tersebut diimpor dari Amerika.

Saat ini, harga kedelai mencapai Rp 7.450 per kilonya dari sebelumnya Rp 7.350. Dia menyampaikan, sejak sepekan lalu, harga kedelai impor mengalami kenaikan.

"Untuk kedelai kering yang belum dikupas harganya naik Rp 100 per kilo. Untuk yang sudah dikupas harganya selisih sekitar Rp 500 sampai Rp 1000 per kilonya," ujarnya. 

Dia mengungkapkan, kondisi pelemahan rupiah ini membuat para pengusaha tempe harus pintar-pintar memutar otak agar bisa terus bertahan. "Setiap pengusaha memiliki sikap sendiri-sendiri. Ada yang memperkecil ukuran tempe hingga mengurangi bahan baku. Semua bisa diatasi,” kata dia. 

Selain itu, lanjut dia, para pengusaha juga memiliki strategi sendiri-sendiri untuk mengembangkan usahanya. Misalnya, dari limbah kedelai yang dibuat tempe, bisa dijadikan pakan ternak. Sedangkan untuk hasil sisa penggorengan tempe, biasanya dijual kembali.

“Jadi, para pengusaha itu melakukan kreasi sehingga bahan baku tidak sia-sia dan bisa menghasilkan sesuatu yang bisa dijual juga,” beber dia.

Sementara itu, salah satu pengusaha tempe, Sokib, mengaku sangat kesusahan lantaran harga kedelai terus meninggi. Dia pun harus mengurangi bahan baku hingga separonya. "Biasanya, satu hari saya menggunakan sekitar 40 kilo kedelai. Sekarang, hanya sekitar 20 kilo sampai 25 kilo saja,” papar dia.

Dia mengaku, hal tersebut merupakan salah satu jalan keluar yang bisa dilakukan. Menurutnya, jika ingin melakukan penyesuaian harga (harga naik) atau mengurangi ukuran tempe, sangat tidak memungkinkan. “Bisa-bisa nanti pembeli tidak kembali lagi. Mereka tidak komplain, tapi langsung nggak kembali lagi,” keluh dia.

Pengusaha Sari Kedelai Arsya, Yessa Vania juga mengeluhkan hal yang sama. Selain harga kedelai yang terus merangkak naik, harga bahan baku lainnya juga ikut meroket. Seperti kemasan botol plastik dan juga gula pasir. 

"Pengaruhnya (pelemahan rupiah) terasa sekali. Semua harga bahan baku naik," kata dia.

Meskipun begitu, dirinya saat ini masih belum menaikkan harga. "Sementara ini, masih ingin melihat dulu kondisi konsumen seperti apa. Mudah-mudahan rupiah bisa turun,” pungkasnya. 

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up